Abstract:
Perkembangan pesat teknologi keuangan digital mendorong peningkatan penggunaan
mobile banking di Indonesia, khususnya di kalangan Generasi Z. Namun, masih
terdapat kesenjangan antara minat penggunaan dan penggunaan aktual (actual usage),
yang menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kemudahan, manfaat, dan keamanan
belum sepenuhnya mampu mendorong adopsi teknologi secara optimal. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis adopsi penggunaan mobile banking berdasarkan
Technology Acceptance Model (TAM) yang meliputi perceived usefulness, perceived
ease of use, terhadap actual usage dengan behavioural intention to use sebagai
variabel mediasi pada Generasi Z di Kota Medan. Dengan tambahan variabel eksternal
Perceived Security. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis
penelitian eksplanatori. Sampel penelitian berjumlah 385 responden yang merupakan
Generasi Z pengguna mobile banking dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah
Indonesia(BRI), Bank Negara Indonesia(BNI), Bank Mandiri. Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan metode
Partial Least Square–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan
aplikasi SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived ease of use
berpengaruh signifikan terhadap behavioural intention to use dan actual usage mobile
banking. behavioural intention to use juga berpengaruh signifikan terhadap actual
usage serta mampu memediasi pengaruh perceived ease of use terhadap actual usage.
namun demikian, perceived security dan perceived usefulness tidak berpengaruh
signifikan baik terhadap behavioural intention to use maupun actual usage, serta tidak
dimediasi oleh behavioural intention to use. selain itu, ditemukan bahwa perceived
ease of use berpengaruh signifikan terhadap perceived usefulness. implikasi penelitian
ini menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan merupakan faktor paling dominan
dalam mendorong adopsi mobile banking pada generasi z, sehingga pihak perbankan
perlu memprioritaskan pengembangan sistem yang lebih sederhana, intuitif, dan user-
friendly. selain itu, diperlukan peningkatan edukasi terkait manfaat dan keamanan
layanan untuk memperkuat kepercayaan serta mendorong penggunaan berkelanjutan.