Abstract:
Penelitianِ iniِ dilatarbelakangiِ olehِ masihِ adanyaِ permasalahanِ
diskriminasiِ administratifِ danِ hambatanِ partisipasiِ politikِ yangِ dialamiِ olehِ
penghayatِkepercayaanِdiِIndonesia,ِkhususnyaِsebelumِdanِsesudahِPutusanِ
MahkamahِKonstitusiِ Nomorِ97/PUU-XIV/2016.ِMeskipunِputusanِtersebutِ
telahِ memberikanِ pengakuanِ hukumِ terhadapِ penghayatِ kepercayaanِ dalamِ
dokumenِ kependudukan,ِ implementasinyaِ diِ lapanganِ belumِ sepenuhnyaِ
optimal,ِterutamaِdalamِkaitannyaِdenganِpemenuhanِhakِpilihِpadaِPemiluِ
2024.ِTujuanِpenelitianِiniِadalahِuntukِmenganalisisِdanِmengetahuiِsecaraِ
mendalamِ mengenaiِ pemenuhanِ hakِ pilihِ penghayatِ kepercayaan,ِ
mengidentifikasiِkendalaِyangِdihadapiِdalamِimplementasiِputusanِMahkamahِ
Konstitusi,ِsertaِmengkajiِimplikasiِputusanِtersebutِterhadapِpartisipasiِpolitikِ
penghayatِkepercayaanِdalamِPemiluِ2024.ِ
Penelitianِiniِmenggunakanِmetodeِpenelitianِhukumِnormatifِdenganِ
pendekatanِ yuridisِ normatifِ yangِ bersifatِ deskriptifِ analitis.ِ Penelitianِ iniِ
menggunakanِdataِsekunderِmelaluiِstudiِkepustakaanِ(library research)ِdenganِ
mengkajiِbahanِhukumِprimer,ِsekunder,ِdanِtersier,ِkemudianِdianalisisِsecaraِ
kualitatifِuntukِmemperolehِkesimpulanِyangِsistematis.
Hasilِpenelitianِterhadapِrumusanِmasalahِpertamaِmenunjukkanِbahwaِ
secaraِnormatif,ِhakِpilihِpenghayatِkepercayaanِtelahِdijaminِdalamِkonstitusiِ
danِ peraturanِ perundang-undanganِ diِ Indonesia.ِ Setelahِ adanyaِ Putusanِ
Mahkamahِ Konstitusiِ Nomorِ 97/PUU-XIV/2016,ِ penghayatِ kepercayaanِ
memperolehِpengakuanِhukumِuntukِmencantumkanِidentitasِkepercayaannyaِ
dalamِdokumenِkependudukan,ِyangِmenjadiِsyaratِutamaِdalamِpendaftaranِ
sebagaiِpemilih.ِDenganِdemikian,ِsecaraِyuridisِtidakِterdapatِlagiِpembatasanِ
terhadapِhakِpilihِpenghayatِkepercayaan,ِdanِmerekaِmemilikiِkedudukanِyangِ
setaraِ denganِwargaِnegaraِ lainnyaِdalamِmenggunakanِhakِpolitiknyaِpadaِ
Pemiluِ 2024.ِ Implementasiِ Putusanِ Mahkamahِ Konstitusiِ tersebutِ masihِ
menghadapiِberbagaiِkendala.ِKendalaِtersebutِmeliputiِhambatanِadministratifِ
sepertiِbelumِmeratanyaِpenerapanِpencantumanِkepercayaanِdalamِdokumenِ
kependudukanِdiِberbagaiِdaerah,ِkurangnyaِpemahamanِaparaturِpemerintah,ِ
sertaِkendalaِteknisِdalamِpendataanِpemilihan.ِPutusanِMahkamahِKonstitusiِ
Nomorِ 97/PUU-XIV/2016ِ memilikiِ implikasiِ yangِ signifikanِ terhadapِ
pemenuhanِhakِpilihِpenghayatِkepercayaan.ِHakِpilihِpenghayatِkepercayaanِ
telahِdiakuiِdanِdilindungi,ِefektivitasِpelaksanaannyaِdalamِPemiluِ2024ِmasihِ
memerlukanِupayaِperbaikanِyangِlebihِkomprehensif.