Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30576| Title: | KEWENANGAN INTERNATIONAL CRIMINAL COURT DALAM MENERBITKAN SURAT PERINTAH PENANGKAPAN TERHADAP KASUS KEJAHATAN PERANG (STUDI KASUS: BENJAMIN NETANYAHU) |
| Authors: | Hayati Marina, Pade Matondang |
| Keywords: | International Criminal Court;Surat Perintah Penangkapan;Statuta Roma |
| Issue Date: | 20-Apr-2026 |
| Publisher: | UMSU |
| Abstract: | International Criminal Court (ICC) didirikan berdasarkan Statuta Roma tahun 1998 dengan mandat untuk mengadili individu yang diduga melakukan kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi. Namun, pelaksanaan kewenangan International Criminal Court, khususnya penerbitan dan penegakan surat perintah penangkapan, menghadapi berbagai tantangan kompleks di tingkat internasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kewenangan International Criminal Court ditetapkan dalam Statuta Roma, apa saja implikasi penerbitan surat perintah penangkapan terhadap kasus kejahatan perang, serta apa saja kendala pelaksanaannya, dengan studi kasus Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan sifat deskriptif yang menggambarkan kondisi hukum secara sistematis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, di mana peneliti menganalisis ketentuan-ketentuan dalam Statuta Roma serta instrumen hukum internasional terkait. Data penelitian diperoleh dari kajian pustaka yang mencakup buku-buku teks hukum internasional, serta artikel dan jurnal hukum yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa International Criminal Court mempunyai kewenangan hukum, berdasarkan Pasal 58 Statuta Roma 1998, untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu, karena Palestina adalah negara pihak Statuta Roma dan dugaan kejahatan terjadi di wilayah Gaza. Implikasi dari dikeluarkannya mandat ini antara lain membatasi perjalanan internasional Netanyahu, mewajibkan 124 negara partisan untuk menangkapnya, dan menyebabkan polarisasi politik global. Kendala utama dalam melaksanakan surat perintah penangkapan adalah ketergantungan International Criminal Court pada kerja sama negara-negara anggota, tidak adanya aparat penegak hukum, ancaman sanksi dari Amerika Serikat, dan prinsip kekebalan kepala negara yang kontroversial. Hambatan ini semakin diperumit dengan penggunaan hak veto oleh sekutu Israel di Dewan Keamanan PBB. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun otoritas International Criminal Court kuat, efektivitasnya sangat ditentukan oleh kemauan politik negara-negara di dunia. |
| URI: | http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30576 |
| Appears in Collections: | Legal Studies |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| Skripsi Hayati Marina Pade Matondang 2206200416.pdf | Full Text | 5.18 MB | Adobe PDF | View/Open |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.