Abstract:
Pendahuluan: Mahasiswa kedokteran memiliki risiko tinggi mengalami stres
akademik akibat beban belajar yang besar, tuntutan kompetitif, serta tekanan
untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Perbedaan fase studi serta variasi
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) turut membentuk pengalaman stres, respons
terhadap stres dan strategi koping yang digunakan. Pemahaman mendalam
mengenai pengalaman subjektif mahasiswa diperlukan untuk mengembangkan
dukungan akademik dan mental yang tepat sasaran. Tujuan: Untuk
mengeksplorasi faktor penyebab stres akademik serta strategi koping yang
digunakan mahasiswa tingkat awal dan tingkat akhir Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Metode: Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan analisis
Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam semi-terstruktur pada mahasiswa tingkat awal (semester 3)
dan tingkat akhir (semester 7), kemudian dianalisis untuk memahami makna
pengalaman stres dan mekanisme koping yang digunakan. Hasil: Terdapat tiga
tema utama, sumber stres akademik, respons stres, dan strategi koping.
Mahasiswa tingkat awal mengalami stres yang berkaitan dengan adaptasi terhadap
lingkungan perkuliahan baru, ketidakmampuan mengatur waktu, peningkatan
beban akademik. Mahasiswa tingkat akhir menghadapi stres yang berasal dari
penyusunan skripsi, persiapan ujian akhir, dan ekspektasi keluarga. Strategi
koping yang digunakan meliputi problem-focused coping (pengaturan jadwal,
manajemen tugas, mencari solusi langsung), emotion-focused coping (istirahat,
relaksasi, ibadah), serta support-seeking (dukungan teman dan keluarga).
Kesimpulan: Mahasiswa tingkat awal mengalami stres karena adaptasi,
manajemen waktu, dan tuntutan materi, sedangkan mahasiswa tingkat akhir lebih
tertekan oleh persiapan ujian dan penyelesaian skripsi. Reaksi stres mencakup
keluhan fisik, emosional, dan perubahan perilaku pada seluruh responden.
Mahasiswa tingkat awal lebih dominan menggunakan emotion-focused coping,
sementara tingkat akhir terutama dengan IPK lebih tinggi dominan memakai
problem-focused coping, disertai strategi makna dan pencarian dukungan sesuai
kebutuhan.