Abstract:
Penelitian ini mengkaji kandungan besi (Fe) pada sedimen Sungai Deli, Kota
Medan, melalui pendekatan gabungan metode X-Ray Diffraction (XRD) dan
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Analisis XRD terhadap sampel
sedimen dari tiga titik sepanjang segmen sungai menunjukkan bahwa
koninckite [(Fe,Al)PO₄·3H₂O] merupakan satu-satunya fase mineral kristalin
yang secara eksplisit mengandung unsur Fe. Koninckite adalah mineral fosfat
sekunder terhidrasi yang terbentuk dari reaksi ion Fe dan Al dengan senyawa
fosfat pada kondisi lingkungan yang cenderung asam, diduga berasal dari
pelapukan mineral primer pembawa besi dan/atau masukan fosfat dari limpasan
pertanian maupun limbah domestik. Puncak utama koninckite muncul konsisten
pada 2θ ≈ 10–11° di ketiga titik, dengan faktor kecocokan (Y) tertinggi pada
Titik 1 (≈61,60%), diikuti Titik 3 (≈52,12%), dan terendah pada Titik 2
(≈40,62%), menunjukkan variasi kandungan Fe kristalin yang relatif kecil antar
titik. Karena XRD bersifat semi-kuantitatif dan hanya mendeteksi fase kristalin,
kandungan Fe total dikonfirmasi menggunakan AAS, yang menunjukkan kadar
Fe sebesar 9,92% (Titik 1), 6,69% (Titik 2), dan 1,71% (Titik 3) — pola
penurunan yang searah dengan hasil XRD namun dengan selisih nilai yang jauh
lebih besar. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar Fe dalam
sedimen berada dalam bentuk amorf atau teradsorpsi pada permukaan mineral
lempung, sehingga tidak terdeteksi oleh XRD. Dengan demikian, koninckite
hanya merepresentasikan sebagian kecil dari total Fe dalam sedimen, dan
kombinasi XRD-AAS diperlukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh
mengenai keberadaan Fe, baik dalam bentuk kristalin maupun non-kristalin.