Abstract:
Air merupakan komponen krusial dalam pembuatan beton yang memicu reaksi
hidrasi semen. Keterbatasan sumber air bersih mendorong pemanfaatan sumber air
alternatif seperti air hujan. Namun, air hujan di berbagai lokasi memiliki karakteristik
derajat keasaman (pH) yang bervariasi akibat polusi lingkungan. Penelitian
eksperimental ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan air hujan dengan
variasi pH dari tiga lokasi berbeda sebagai air pencampur terhadap nilai slump dan kuat
tekan beton mutu rencana f'c 20 MPa berdasarkan SNI 03-2834-2000. Sampel air hujan
yang digunakan berasal dari kawasan industri (BH-1, pH ±5,5), kawasan perkotaan
(BH-2, pH ±6,3), dan kawasan pedesaan (BH-3, pH ±7,0). Pengujian material
penyusun menunjukkan Modulus Kehalusan (FM) agregat halus sebesar 3,12 dan
agregat kasar 2,40, serta memenuhi seluruh persyaratan teknis SNI. Benda uji berupa
silinder beton berukuran 150 mm x 300 mm diuji kuat tekan pada umur 7, 14, dan 28
hari menggunakan Compression Testing Machine (CTM). Hasil pengujian
menunjukkan bahwa keasaman air hujan memengaruhi workability dan perkembangan
kuat tekan beton. Nilai slump beton mengalami penurunan seiring bertambahnya
tingkat keasaman air hujan. Pada pengujian kuat tekan umur 28 hari, beton dengan air
hujan kawasan pedesaan (BH-3, pH ±7,0) menghasilkan kuat tekan tertinggi sebesar
22,01 MPa (memenuhi mutu rencana), diikuti air hujan perkotaan (BH-2, pH ±6,3)
sebesar 20,87 MPa, sedangkan air hujan kawasan industri yang bersifat asam (BH-1,
pH ±5,5) menghasilkan kuat tekan terendah yaitu 20,32 MPa. Secara keseluruhan,
penggunaan air hujan dengan pH rendah (asam) terbukti menghambat proses hidrasi
semen, melarutkan senyawa kalsium, serta menurunkan kuat tekan beton hingga 7,68%
dibandingkan beton normal/netral. Penelitian ini merekomendasikan netralisasi pH air
hujan sebelum digunakan sebagai air pencampur beton konstruksi.