Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31802
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.authorROSA SITORUS PANE, MAULIDA AGUSDILA-
dc.date.accessioned2026-06-22T03:09:15Z-
dc.date.available2026-06-22T03:09:15Z-
dc.date.issued2026-05-
dc.identifier.issnissn-
dc.identifier.urihttp://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31802-
dc.description.abstractPerlindungan satwa liar merupakan aspek penting dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, mengingat maraknya praktik penyelundupan yang mengancam keberlangsungan spesies dilindungi. Salah satu kasus yang relevan adalah penyelundupan sisik trenggiling melalui KM. Fajar 99 yang kemudian diputus dalam Putusan Nomor 106/Pid.Sus/2024/PN.Tjb. menganalisis pertanggungjawaban pidana dalam perkara tersebut, khususnya terhadap nakhoda kapal, yang ditunjuk menggantikan kapten utama, serta mengkaji peran Bea Cukai, perusahaan pelayaran, dan eksportir dalam konteks penegakan hukum perlindungan satwa liar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus, perundang-undangan, dan konseptual. Sumber data diperoleh melalui studi kepustakaan, dokumen putusan pengadilan, dan peraturan terkait konservasi sumber daya alam maupun hukum kepabeanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur kesengajaan dari terdakwa tidak terpenuhi, karena Syamsir hanya melaksanakan fungsi navigasi dan keselamatan pelayaran berdasarkan dokumen resmi yang diserahkan kepadanya. Tanggung jawab pemuatan barang sepenuhnya berada pada eksportir dan perusahaan pelayaran (PT. Melda Jaya), sedangkan Mualim I bertugas memeriksa dan mencocokkan dokumen manifest dengan barang muatan. Di sisi lain, Bea Cukai tidak melaksanakan kewajiban pemeriksaan fisik (boatzoeking) sebagaimana mestinya, sehingga celah hukum dimanfaatkan oleh eksportir untuk menyelundupkan satwa dilindungi. Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus penegakan hukum tidak semestinya diarahkan pada nakhoda semata, tetapi juga pada korporasi, eksportir, serta aparat pengawas yang lalai. putusan ini menegaskan pentingnya penerapan pertanggungjawaban pidana korporasi, penguatan mekanisme pengawasan Bea Cukai, serta koordinasi antar lembaga dalam penegakan hukum penyelundupan satwa liar. Upaya perlindungan satwa dilindungi tidak cukup hanya dengan menjerat individu di lapangan, tetapi harus menyasar aktor intelektual, pemilik barang, dan perusahaan pelayaran yang menjadi bagian dari rantai penyelundupan.en_US
dc.subjectPertanggungjawabanen_US
dc.subjectkonservasien_US
dc.subjectpenegakan hukumen_US
dc.titleANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN SATWA LIAR DALAM KONTEKS KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA (Studi Putusan Nomor. 106/Pid.Sus/2024/PN.Tjb)en_US
dc.typeThesisen_US
Appears in Collections:Masters in Law

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
TESIS MAULIDA AGUSFILA ROSA SITORUS PANE 2320010078.pdf3.34 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.