Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran film sebagai media komunikasi massa
yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana membentuk persepsi
masyarakat terhadap berbagai realitas sosial, termasuk isu autisme. Representasi
penyandang autisme dalam media sering kali memunculkan berbagai makna tentang
hubungan keluarga, khususnya hubungan kakak–adik yang memiliki dinamika emosional
yang kompleks seperti konflik, tanggung jawab, hingga penerimaan. Film My Idiot Brother
karya Agnes Davonar dan Rain Man karya Barry Levinson menjadi menarik untuk dikaji
karena keduanya menampilkan relasi kakak–adik dengan penyandang autisme dalam latar
budaya yang berbeda. Penelitian ini menggunakan teori representasi serta pendekatan
semiotika Roland Barthes yang menekankan pada tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi,
konotasi, dan mitos. Teori ini digunakan untuk mengungkap makna yang tersembunyi di
balik tanda-tanda visual, dialog, serta simbol yang muncul dalam adegan film. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan analisis teks film.
Data penelitian diperoleh melalui teknik observasi dan dokumentasi terhadap adegan
adegan yang merepresentasikan hubungan kakak–adik dalam kedua film. Analisis data
dilakukan dengan mengidentifikasi tanda-tanda dalam adegan film, kemudian menafsirkan
makna denotasi, konotasi, dan mitos menggunakan model semiotika Roland Barthes. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kedua film merepresentasikan hubungan kakak–adik
dengan penyandang autisme sebagai relasi yang kompleks dan dinamis. Film My Idiot
Brother lebih menekankan pada nilai kasih sayang, pengorbanan, dan sikap protektif dalam
konteks budaya keluarga Indonesia. Sementara itu, film Rain Man menggambarkan
hubungan kakak–adik yang pada awalnya dilandasi kepentingan pribadi dan jarak
emosional, namun berkembang menjadi empati dan penerimaan. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa film sebagai media massa memiliki peran penting dalam
membangun pemahaman masyarakat mengenai autisme serta memperlihatkan bahwa
hubungan saudara kandung dapat menjadi ruang pembelajaran tentang tanggung jawab,
empati, dan makna keluarga.