Abstract:
Film sebagai media komunikasi massa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan,
tetapi juga menyampaikan nilai dan makna sosial. Film Cuties karya Maïmouna
Doucouré menimbulkan kontroversi karena menampilkan representasi anak
perempuan yang dianggap mengandung unsur eksploitasi. Hal ini memunculkan
perdebatan mengenai bagaimana media membentuk pemaknaan terhadap tubuh
dan identitas anak perempuan dalam budaya populer. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis konstruksi makna eksploitasi anak perempuan dalam film
tersebut.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis
semiotika Roland Barthes, yang meliputi tiga tahapan makna, yaitu denotasi,
konotasi, dan mitos. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi
dengan menonton dan mengidentifikasi adegan-adegan yang relevan, serta
mendokumentasikan tanda-tanda visual seperti dialog, kostum, ekspresi, dan
gerakan tubuh. Analisis data dilakukan dengan menginterpretasikan tanda-tanda
tersebut berdasarkan kerangka semiotika.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pada tingkat denotasi, film menampilkan aktivitas anak perempuan dalam
kelompok tari modern. Pada tingkat konotasi, terdapat proses seksualisasi melalui
gerakan, kostum, dan ekspresi yang menyerupai budaya dewasa. Pada tingkat
mitos, film merepresentasikan pengaruh media digital dan budaya populer dalam
membentuk identitas anak perempuan.Kesimpulannya, film Cuties tidak hanya
menampilkan eksploitasi secara visual, tetapi juga mengonstruksi kritik sosial
terhadap fenomena seksualisasi anak dalam budaya populer dan media digital.