Abstract:
Konflik pengalihan fungsi lahan di Bah Butong telah memicu krisis kepercayaan
masyarakat terhadap PTPN IV. Hal ini disebabkan pandangan warga yang melihat
perubahan lahan kebun teh menjadi perkebunan sawit sebagai ancaman serius bagi
lingkungan, identitas daerah, serta kelestarian mata pencaharian mereka. Sementara
itu, perusahaan berupaya mempertahankan legitimasi dan reputasi positifnya lewat
narasi pengoptimalan aset, disertai berbagai inisiatif komunikasi guna meredakan
penolakan publik. Penelitian ini bertujuan mengungkap penerapan strategi
pemulihan citra (image restoration) oleh PTPN IV dalam mengatasi krisis
kepercayaan publik akibat konflik pengalihan fungsi lahan di Bah Butong.
Pendekatan penelitian bersifat kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh
melalui wawancara mendalam, pengamatan langsung, serta analisis dokumen,
kemudian diolah menggunakan model analisis interaktif dari Miles, Huberman, dan
Saldana, serta dievaluasi berdasarkan teori Image Restoration karya William L.
Benoit. Temuan penelitian mengungkap bahwa PTPN IV menerapkan sejumlah
strategi pemulihan citra, khususnya penyangkalan (denial), penghindaran tanggung
jawab (evasion of responsibility), pengurangan dampak negatif (reducing
offensiveness), dan tindakan korektif (corrective action). Strategi pengakuan
kesalahan (mortification) tidak terlihat secara tegas dalam data. Upaya perusahaan
melalui sosialisasi, pemberitaan media, dan program tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR) memang berhasil mempertahankan citra formalnya. Akan tetapi,
kepercayaan masyarakat belum pulih sepenuhnya karena komunikasi yang
dilakukan masih bersifat searah dan belum sepenuhnya menanggapi kekhawatiran
warga secara komprehensif. Oleh karena itu, strategi pemulihan citra PTPN IV
dinilai cukup berhasil meredam konflik di tingkat permukaan, tetapi kurang optimal
dalam membangun legitimasi sosial yang kokoh di kalangan masyarakat Bah
Butong.