Abstract:
Penelitian ini mengkaji penerapan teori interaksi simbolik guru dalam mendukung
perkembangan akademik siswa tunanetra di SLB Pondok Anugerah, Kabupaten
Deli Serdang, Sumatera Utara. Keterbatasan akses visual menyebabkan siswa
tunanetra sangat bergantung pada informasi auditif dan pengalaman taktual,
sehingga strategi komunikasi guru menjadi penentu keberhasilan penyampaian dan
pemaknaan pesan pembelajaran. Penelitian ini penting dilakukan karena kajian
yang menghubungkan interaksi simbolik di kelas dengan perkembangan akademik
siswa tunanetra masih terbatas, khususnya pada konteks pendidikan luar biasa di
Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus, dengan tiga orang guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran siswa
tunanetra sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam,
observasi langsung terhadap interaksi di kelas, dan dokumentasi, kemudian
dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperiksa
keabsahannya melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa interaksi guru dan siswa berlangsung melalui lima bentuk
simbol yang saling melengkapi, yaitu komunikasi verbal, intonasi suara, arahan,
tanya jawab, dan pengalaman langsung, yang berfungsi sebagai satu sistem simbol
yang bersifat redundan untuk mengatasi keterbatasan informasi visual. Analisis
berdasarkan tiga premis Blumer dan konsep mind, self, dan society dari Mead
menunjukkan bahwa makna tidak bersifat tetap, melainkan terus dinegosiasikan
melalui interaksi yang berulang, dan interaksi adaptif tersebut berkontribusi
langsung terhadap pemahaman, kepercayaan diri, dan kemajuan belajar siswa.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran siswa tunanetra
tidak semata ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana
proses pemaknaan pesan dibangun, ditafsirkan, dan disesuaikan secara
berkelanjutan melalui interaksi guru dan siswa.