Abstract:
Jalan Tol Tebing Tinggi – Parapat ruas Serbelawan – Pematang Siantar merupakan
jalan tol dengan volume lalu lintas kendaraan berat yang tinggi sehingga
memerlukan perencanaan perkerasan kaku yang mampu menjamin kinerja struktur
selama umur rencana. Di Indonesia, perencanaan perkerasan jalan umumnya
menggunakan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP) 2024 dan metode AASHTO
1993 (American Association of State Highway and Transportation Officials), yang
memiliki perbedaan pendekatan, parameter desain, dan prosedur perhitungan
sehingga menghasilkan tebal perkerasan yang berbeda meskipun menggunakan
data perencanaan yang sama. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan tebal perkerasan kaku menggunakan kedua metode tersebut pada
Jalan Tol Ruas Serbelawan – Pematang Siantar (STA 49+265 s/d STA 52+450).
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa Data Lalu Lintas Harian Rata –
Rata (LHR) dan data CBR tanah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
metode MDP 2024 menghasilkan tebal pelat beton sebesar 34 cm dengan nilai
fatigue 0,00% dan erosi 91,25%, sedangkan metode AASHTO menghasilkan tebal
pelat 33,5 cm. Perbedaan ketebalan sebesar 0,5 cm (1,5%) menunjukkan bahwa
adanya perbedaan pendekatan desain terutama oleh penggunaan faktor keamanan
beban dan analisis erosi pada metode MDP 2024, serta penggunaan koefisien
drainase dan transfer beban pada metode AASHTO 1993. Umur rencana 40 tahun
turut memengaruhi hasil desain melalui peningkatan akumulasi beban lalu lintas
akibat faktor pertumbuhan kumulatif. Meskipun demikian, kedua metode telah
memenuhi persyaratan desain perkerasan kaku. Berdasarkan hasil penelitian,
metode MDP 2024 dinilai lebih sesuai untuk diterapkan pada perencanaan
perkerasan kaku di Indonesia karena telah disesuaikan dengan karakteristik lalu
lintas, material, dan kondisi lingkungan Indonesia.