Abstract:
Banjir bandang Aceh 2025 memutus jaringan telekomunikasi dan memicu krisis
komunikasi yang memaksa mahasiswa perantau Aceh di Medan menyesuaikan
pola komunikasi interpersonal mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola
komunikasi interpersonal mahasiswa perantau Aceh di Medan dalam menghadapi
krisis komunikasi pasca banjir bandang 2025. Metode yang digunakan adalah
kualitatif fenomenologis dengan
pengumpulan data melalui wawancara
mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, serta analisis data
menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan
keterbukaan komunikasi menjadi selektif dan adaptif, intensitas komunikasi
meningkat dari dua hari sekali menjadi setiap hari. Empati terwujud melalui
pembentukan grup informasi bersama dan komunikasi berlangsung dua arah
melalui verifikasi langsung kepada keluarga. Krisis ditandai oleh terputusnya
sinyal lebih dari satu minggu, informasi simpang siur di media sosial, kecemasan,
gangguan tidur, dan penurunan produktivitas akademik. Strategi yang
dikembangkan meliputi penyesuaian gaya komunikasi yang lebih empatik,
pemanfaatan TikTok dan WhatsApp sebagai sumber informasi alternatif, serta
pencarian dukungan sosial dari sesama perantau. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa komunikasi interpersonal berfungsi sebagai mekanisme adaptasi dalam
krisis, dengan empati kolektif dan jaringan sesama perantau sebagai elemen
paling menentukan.