Abstract:
Perkembangan teknologi informasi dalam bidang kesehatan mendorong
pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu proses diagnosis penyakit secara
cepat dan akurat. Vertigo merupakan gangguan keseimbangan yang ditandai
dengan sensasi pusing berputar dan memiliki gejala yang bervariasi sehingga sering
sulit dikenali oleh masyarakat awam. Kurangnya pemahaman serta keterbatasan
akses terhadap tenaga medis menjadi permasalahan utama dalam diagnosis awal
vertigo. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem pakar
berbasis web menggunakan metode Certainty Factor (CF) untuk membantu
diagnosis awal penyakit vertigo serta mengukur tingkat keyakinan hasil diagnosis.
Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi bagaimana merancang sistem pakar
diagnosis vertigo, bagaimana menerapkan metode Certainty Factor dalam
menghitung tingkat kepastian diagnosis, serta bagaimana tingkat akurasi sistem
yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi, wawancara
dengan pakar medis, dan studi kepustakaan. Sistem dikembangkan menggunakan
bahasa pemrograman PHP dan database MySQL, dengan basis pengetahuan yang
terdiri dari 15 gejala dan 2 jenis vertigo, yaitu vertigo perifer dan vertigo sentral.
Metode Certainty Factor digunakan untuk menghitung tingkat keyakinan
berdasarkan nilai MB (Measure of Belief) dan MD (Measure of Disbelief) yang
diperoleh dari pakar dan dikombinasikan dengan nilai keyakinan pengguna.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pakar mampu memberikan diagnosis
awal vertigo berdasarkan gejala yang dipilih pengguna dengan nilai tingkat
keyakinan dalam bentuk persentase. Pengujian sistem menggunakan 20 data pasien
menunjukkan bahwa sistem dapat memberikan hasil diagnosis yang sesuai dengan
kondisi pasien dan membantu dalam proses identifikasi awal penyakit.
Simpulan dari penelitian ini adalah sistem pakar berbasis Certainty Factor yang
dikembangkan mampu menjadi alat bantu diagnosis awal vertigo yang efektif,
cepat, dan mudah diakses oleh masyarakat. Sistem ini juga dapat meningkatkan
pemahaman pengguna terhadap kondisi kesehatan yang dialami, meskipun tidak
menggantikan peran tenaga medis dalam diagnosis klinis.