Abstract:
Pendahuluan: Staphylococus aureus merupakan penyebab infeksi yang sering
dijumpai di fasilitas kesehatan dan komunitas. Terapi infeksi yang disebabkan oleh
MRSA menjadi sulit karena bakteri ini resisten terhadap banyak antibiotik.
Klindamisin sering menjadi alternatif pilihan. Namun penggunaan klindamisin juga
dapat menimbulkan resistensi yang terinduksi. Keberadaan MRSA serta perbedaan
karakteristik pasien diduga berperan dalam munculnya Inducible clindamycin
resistance (ICR). Metode: sejumlah 56 sampel klinis diproses sesuai standar
laboratorium mikrobiologi . Uji kepekaan antibiotik menggunakan metode difusi
cakram (kierby -Bauer). Identifikasi MRSA menggunakan cakram cefoksitin
(30µg), serta deteksi ICR menggunakan uji D (double disk diffudion test) Hasil:
Dari 56 isolat ditemukan isolat S.aures sebanyak 42 yang Sebagian besar adalah
MSSA (92,9%). Prevalensi MRSA sebesar 7,1%. Kejadian ICR ditemukan pada 1
isolat (2,4%) yang berasal dari isolat MRSA. Analisis statistik menunjukkan tidak
terdapat hubungan bermakna antara status MRSA dan karakteristik pasien dengan
kejadian ICR (p>0,05). Pola kepekaan antibiotik menunjukkan resistensi yang
sangat tinggi terhadap amoksisilin (88%), serta masih efektif terhadap antibiotik
kotrimoksazol (95,2%) dan klindamisin (97,6%). Kesimpulan: kejadian Inducible
clindamycin resistance pada isolat S.aureus rendah dan tidak berhubungan secara
signifikan dengan status MRSA dan karakteristik pasien