Abstract:
Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan salah satu dari sepuluh penyebab
kematian terbesar di dunia dan menempati urutan kedua penyakit menular paling
mematikan. Setiap tahunnya, sekitar 10 juta orang terinfeksi tuberkulosis dengan
angka kematian mencapai 1,5 juta kasus, di mana 43% di antaranya berasal dari
kawasan Asia Tenggara dan Indonesia menempati urutan kedua terbanyak. Upaya
penanggulangan tuberkulosis terkendala oleh keterbatasan pengembangan obat baru
selama lebih dari lima dekade. Uji Resazurin Microtiter Assay (REMA), yang
direkomendasikan WHO, menjadi metode alternatif dalam menentukan konsentrasi
hambat minimum (MIC) dan resistensi obat Mycobacterium tuberculosis. Daun
legundi (Vitex trifolia L.) diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi
memberikan aktivitas anti-tuberkulosis melalui mekanisme disrupsi membran sel
bakteri dan denaturasi protein. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
mengevaluasi aktivitas anti-tuberkulosis ekstrak etanol daun legundi terhadap M.
tuberculosis secara in vitro melalui penentuan nilai MIC. Metode: Ekstrak etanol
daun legundi diperoleh dengan maserasi etanol 96% dan diuji aktivitas
antimikobakterinya terhadap M. tuberculosis H37Rv menggunakan metode Resazurin
Microtiter Assay (REMA) diuji dalam tiga konsentrasi berbeda yaitu 2,5%; 1,25%;
dan 0,625%. Rifampisin digunakan sebagai kontrol positif, dan nilai MIC ditetapkan
sebagai konsentrasi terendah yang menghambat pertumbuhan bakteri. Hasil: Ekstrak
etanol daun legundi menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan M.
tuberculosis dengan nilai MIC sebesar 0,625%, sedangkan rifampisin memiliki
konsentrasi hambat minimum sebesar 0,25 μg/mL. Kesimpulan: Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun legundi memiliki potensi sebagai anti tuberkulosis