Abstract:
Pendahuluan: karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan
mulut dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Kebersihan mulut yang kurang
optimal berperan dalam meningkatkan akumulasi plak dan kolonisasi bakteri
kariogenik, yang memicu proses demineralisasi enamel. Identifikasi
mikroorganisme penyebab serta pola sensitivitas antibiotik penting untuk
mendukung terapi yang rasional. Metode: penelitian observasional analitik
dengan desain cross-sectional dilakukan pada 49 pasien poli gigi di UPTD
Puskesmas Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai.
Status kebersihan mulut diukur menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan
jumlah karies ditentukan melalui pemeriksaan klinis. Identifikasi bakteri
dilakukan melalui pewarnaan Gram dari apusan lesi karies. Uji sensitivitas
antibiotik menggunakan metode difusi cakram (Kirby–Bauer) terhadap
clindamycin, cefixime, dan sulphamethoxazole. Analisis bivariat menggunakan uji
Chi-Square dan besar risiko dinyatakan dalam Odds Ratio (OR) dengan interval
kepercayaan 95%. Hasil: terdapat hubungan bermakna antara kebersihan mulut
dan kejadian karies gigi (p=0,001). Responden dengan kebersihan mulut buruk
memiliki risiko lebih tinggi mengalami karies ≥2 gigi dibandingkan responden
dengan kebersihan tidak-buruk (OR=78,95; IK95% 4,14–1505,32).
Mikroorganisme yang teridentifikasi meliputi Streptococcus mutans,
Lactobacillus acidophilus, dan Staphylococcus aureus, serta temuan Candida sp.
Sensitivitas antibiotik menunjukkan isolat lebih responsif terhadap
sulphamethoxazole dan cefixime dibandingkan clindamycin. Kesimpulan:
Kebersihan mulut berhubungan signifikan dengan kejadian karies gigi. Variasi
pola sensitivitas antibiotik pada bakteri kariogenik menunjukkan pentingnya
pendekatan pencegahan berbasis higiene serta pertimbangan uji sensitivitas dalam
pemilihan terapi antimikroba.