Abstract:
Pendahuluan : Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik kronik yang
ditandai dengan hiperglikemia akibat penurunan fungsi sel β pada pulau
Langerhans pankreas. Streptozotocin sering digunakan untuk menginduksi
kerusakan pulau Langerhans sehingga menyerupai kondisi diabetes melitus. Daun
Pirdot (Saurauia vulcani Korth.) merupakan tanaman lokal Sumatera Utara yang
memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, steroid atau triterpenoid yang
berpotensi sebagai antioksidan, anti-inflamasi, dan antidiabetes. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun pirdot terhadap gambaran
histopatologi pankreas tikus Wistar model diabetes melitus yang diinduksi oleh
Streptozotocin. Metode : Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan
25 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kontrol
negatif, kontrol positif (STZ 35 mg/kgBB), perlakuan 1 (STZ + Metformin 50
mg/kgBB), perlakuan 2 (STZ + ekstrak Daun Pirdot 250 mg/kgBB), dan perlakuan
3 (STZ + ekstrak Daun Pirdot 500 mg/kgBB). Setelah periode perlakuan selama
dua minggu, pankreas diambil untuk pemeriksaan histopatologi menggunakan
pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Parameter yang dinilai meliputi kongesti,
vakuolisasi, nekrosis, serta skor luas kerusakan pulau Langerhans menggunakan
skoring dan aplikasi ImageJ. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal–
Wallis dan Mann–Whitney. Hasil : Kelompok kontrol positif menunjukkan
peningkatan kongesti, vakuolisasi, dan nekrosis yang signifikan dibandingkan
kelompok kontrol negatif. Kelompok perlakuan ekstrak daun pirdot (Saurauia
vulcani Korth.), khususnya dosis 500 mg/kgBB, menunjukkan perbaikan struktur
histopatologis pulau langerhans berupa penurunan derajat kerusakan pulau
Langerhans, berkurangnya vakuolisasi, serta peningkatan luas pulau Langerhans
dibandingkan kontrol positif. Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p <
0,05). Kesimpulan : Ekstrak daun pirdot (Saurauia vulcani Korth.) memiliki efek
protektif dan restoratif terhadap jaringan pankreas tikus Wistar model diabetes
melitus induksi Streptozotocin. Dosis 500 mg/kgBB menunjukkan perbaikan
histopatologi paling optimal, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai terapi
herbal pendamping diabetes melitus.