Abstract:
Pendahuluan: Diabetes melitus yang diinduksi streptozotocin (STZ) dapat
menghambat proses penyembuhan luka melalui peningkatan stres oksidatif,
inflamasi yang berkepanjangan, serta penurunan aktivitas fibroblas dan
pembentukan kolagen. Daun pirdot (Saurauia vulcani Korth.) mengandung
flavonoid dan triterpenoid yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan,
sehingga diduga mampu mendukung regenerasi jaringan luka. Penelitian ini
bertujuan menilai efek ekstrak daun pirdot terhadap gambaran histopatologi
jaringan luka tikus Wistar yang diinduksi STZ. Metode: Penelitian eksperimental
ini melibatkan 25 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi lima kelompok,
yaitu kontrol negatif (tanpa STZ), kontrol positif (STZ 35 mg/kgBB), perlakuan 1
(STZ + metformin 50 mg/kgBB), perlakuan 2 (STZ + ekstrak daun pirdot 250
mg/kgBB), dan perlakuan 3 (STZ + ekstrak daun pirdot 500 mg/kgBB). Preparat
histopatologi jaringan luka diwarnai dengan Hematoxylin Eosin (HE) dan dinilai
berdasarkan empat parameter: infiltrasi sel inflamasi, proliferasi fibroblas,
pembentukan kolagen, dan angiogenesis menggunakan skala ordinal 0–3. Analisis
data dilakukan menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann–Whitney dengan batas
signifikansi p < 0,05. Hasil: Induksi STZ menimbulkan hambatan penyembuhan
luka, terlihat dari meningkatnya infiltrasi inflamasi serta menurunnya proliferasi
fibroblas dan pembentukan kolagen. Pemberian ekstrak daun pirdot menunjukkan
perbaikan signifikan pada parameter proliferasi fibroblas (p = 0,003) dan
pembentukan kolagen (p = 0,039). Dosis 500 mg/kgBB (perlakuan 3) memberikan
kecenderungan perbaikan paling optimal dibanding kelompok lain, meskipun
perubahan pada infiltrasi inflamasi dan angiogenesis belum menunjukkan
signifikansi statistik. Kesimpulan: Ekstrak daun pirdot berpotensi mendukung
proses penyembuhan luka pada tikus diabetes yang diinduksi STZ, terutama
melalui peningkatan proliferasi fibroblas dan pembentukan kolagen. Dosis 500
mg/kgBB memberikan hasil terbaik, meskipun efek terhadap inflamasi dan
angiogenesis masih terbatas.