Abstract:
Latar Belakang : Angka persalinan dengan sectio caesarea (SC) terus
mengalami peningkatan baik secara global maupun nasional, dan nyeri akut
pascaoperasi merupakan keluhan utama yang dapat menghambat mobilisasi dini,
menyusui, serta memperlambat proses pemulihan ibu. Enhanced Recovery After
Caesarean Section (ERACS) merupakan pendekatan perioperatif berbasis bukti
yang bertujuan mempercepat pemulihan melalui manajemen multimodal,
termasuk pengendalian nyeri, namun data mengenai perbandingan nyeri akut pasca
SC antara metode ERACS dan metode konvensional di Kota Medan masih terbatas.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nyeri akut pasca
operasi sectio caesarea antara pasien yang menjalani metode ERACS dan metode
konvensional di Rumah Sakit Bunda Thamrin Kota Medan. Metode : Penelitian
ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain retrospektif
menggunakan data rekam medis pasien yang menjalani operasi sectio caesarea
dengan metode ERACS dan metode konvensional pada periode September 2024–
2025, dengan variabel yang meliputi karakteristik responden, skala nyeri
berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS), waktu pertama kali merasakan nyeri,
serta penggunaan rescue analgesia, yang dianalisis secara univariat dan bivariat.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nyeri akut pasca operasi
sectio caesarea antara kelompok ERACS dan kelompok konvensional, di mana
kelompok ERACS cenderung memiliki intensitas nyeri yang lebih rendah, waktu
muncul nyeri yang lebih lambat, serta kebutuhan rescue analgesia yang lebih
sedikit dibandingkan kelompok konvensional. Kesimpulan : Terdapat perbedaan
nyeri akut pasca operasi sectio caesarea antara metode ERACS dan metode
konvensional, sehingga metode ERACS dapat dipertimbangkan sebagai salah satu
pendekatan dalam manajemen pasca operasi sectio caesarea untuk mendukung
pemulihan ibu.