Abstract:
Pendahuluan: Pneumonia komunitas masih menjadi penyebab utama morbiditas
dan rawat inap pada anak. Pemilihan regimen antibiotik empiris serta respons
klinis terhadap terapi berperan penting dalam menentukan lama rawat inap. Namun, data mengenai pola penggunaan antibiotik dan hubungannya dengan
lama rawat inap pneumonia anak di rumah sakit rujukan daerah masih terbatas. Tujuan: Mengetahui pola penggunaan antibiotik dan hubungannya dengan lama
rawat inap pada pasien pneumonia komunitas anak yang dirawat di RSU Haji
Medan. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional retrospektif
dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medis pasien pneumonia
komunitas anak yang menjalani rawat inap di RSU Haji Medan periode 2020–
2024. Variabel yang dianalisis meliputi karakteristik pasien, regimen antibiotik
(tunggal dan kombinasi), serta lama rawat inap. Analisis univariat digunakan
untuk menggambarkan distribusi data, sedangkan analisis bivariat dilakukan
untuk menilai perbedaan lama rawat inap antar kelompok terapi antibiotik
menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil: Sebagian besar pasien merupakan anak
usia <5 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Antibiotik yang paling banyak
digunakan adalah sefalosporin generasi ketiga, terutama ceftriaxone, baik sebagai
terapi tunggal maupun kombinasi. Median lama rawat inap pada kelompok terapi
kombinasi lebih singkat dibandingkan kelompok terapi tunggal, dan perbedaan
tersebut bermakna secara statistik (p<0,05). Kesimpulan: Penggunaan antibiotik
sefalosporin generasi ketiga mendominasi terapi pneumonia komunitas anak di
RSU Haji Medan. Terdapat perbedaan lama rawat inap yang signifikan antara
kelompok terapi antibiotik tunggal dan kombinasi. Lama rawat inap tidak hanya
dipengaruhi oleh regimen antibiotik, tetapi juga oleh respons klinis dan waktu
pencapaian stabilitas klinis pasien.