Abstract:
Latar belakang: Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan penyakit menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, dengan Indonesia menempati
peringkat kedua sebagai negara dengan beban kasus tertinggi secara global.
Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan
masalah serius yang dapat menyebabkan kegagalan serius yang dapat
menyebabkan kegagalan pengobatan, peningkatan risiko kematian, dan resisten
obat. Status sosioekonomi (pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan) menjadi
salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan, namun hasil penelitian
terkait hubungannya masih menunjukkan inkonsistensi. Tujuan: Mengetahui
hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat tuberkulosis dengan kondisi
sosioekonomi pada pasien tuberkulosis paru. Metode penelitian: Penelitian ini
adalah peelitian analitik kuantitatif dengan desain korelasional dan menggunakan
pendekatan Cross-Sectional. Populasi penelitian adalah pasien rawat jalan TB
Paru, dan sampel berjumlah 55 pasien yang dipilih dengan teknik Purposive
Sampling di Poliklinik Paru UPTD. Rumah Sakit Khusus Paru Provinsi Sumatera
Utara dan UPT Puskesmas Bromo. Pengumpulan data primer dilakukan
menggunakan kuesioner. Analisis data bivariat menggunakan Uji Korelasi
Spearman. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat kepatuhan minum OAT
yang tinggi, yaitu sebanyak 81,8% (45 orang). Sementara itu, mayoritas pasien
berada pada kelompok sosioekonomi yang rendah, yaitu sebanyak 63,6% (35
orang). Berdasarkan hasil analisis Uji Korelasi Spearman, didapatkan nilai
p=0,010. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
kepatuhan minum obat tuberkulosis dengan sosioekonomi pada pasien
tuberkulosis paru (p=0,010) dan nilai korelasi r = 0,347 yang menunjukkan
hubungan positif dengan kekuatan lemah-sedang.