Abstract:
Pendahuluan: Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik,
emosional, dan psikologis yang muncul 7–14 hari sebelum menstruasi. PMS
dialami oleh 75% wanita usia subur di dunia, dan prevalensinya di Indonesia
mencapai 80–90%. Yoga dikenal sebagai terapi non-farmakologis yang mampu
menurunkan stres, menyeimbangkan hormon, dan meningkatkan relaksasi melalui
teknik pernapasan, postur (asana), dan meditasi. Tujuan: Mengetahui hubungan
antara yoga terhadap gejala premenstrual syndrome (PMS) pada wanita usia
reproduktif di Club Yoga Fit Medan. Metode: Penelitian menggunakan desain
cross-sectional dengan jumlah sampel 51 wanita usia reproduktif yang mengikuti
yoga minimal 6 bulan. Gejala PMS diukur menggunakan Shortened Premenstrual
Assessment Form (SPAF), sedangkan yoga (self-efficacy yoga) diukur dengan Yoga
Self-Efficacy Scale (YSES). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil: Sebagian besar responden tidak mengalami
gejala PMS yaitu 43 orang (84,3%), sedangkan gejala ringan dialami 8 orang
(15,7%). Tingkat self-efficacy yoga mayoritas berada pada kategori tinggi (51%)
dan sangat tinggi (37,2%). Hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan nilai p = 0,000 (p
< 0,05) yang berarti terdapat hubungan bermakna antara yoga dengan gejala PMS.
Semakin tinggi self-efficacy yoga, semakin rendah tingkat gejala PMS yang
dialami. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara yoga dan penurunan
gejala PMS pada wanita usia reproduktif. Yoga berperan dalam menurunkan stres,
menyeimbangkan hormon, meningkatkan endorfin, serta mengaktifkan sistem saraf
parasimpatis. Yoga dapat direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis untuk
mengelola PMS.