Abstract:
Latar Belakang: Dispepsia merupakan keluhan gastrointestinal yang dapat disertai nyeri
atau rasa tidak nyaman pada daerah epigastrium. Kondisi lingkungan lembaga
pemasyarakatan, termasuk tekanan psikologis dan keterbatasan aktivitas, dapat
berkontribusi terhadap munculnya keluhan gastrointestinal pada warga binaan. Bekam
kering merupakan salah satu terapi nonfarmakologis yang berpotensi membantu
mengurangi nyeri melalui respons fisiologis yang ditimbulkan oleh tekanan negatif pada
permukaan kulit. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi bekam kering terhadap perubahan
intensitas nyeri pada penderita dispepsia warga binaan pemasyarakatan di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas I Medan. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain
pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sebanyak 23 responden
dipilih melalui purposive sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating
Scale (NRS) sebelum dan setelah pemberian terapi bekam kering. Data dianalisis
menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test karena hasil uji normalitas menunjukkan data
tidak berdistribusi normal. Hasil: Sebelum intervensi, rerata skor NRS adalah 6,13 ± 1,42
dan menurun menjadi 4,00 ± 1,04 setelah intervensi, dengan selisih rerata sebesar 2,13
poin. Sebelum terapi, 10 responden (43,5%) mengalami nyeri sedang dan 13 responden
(56,5%) mengalami nyeri berat. Setelah terapi, 8 responden (34,8%) berada pada kategori
nyeri ringan, 15 responden (65,2%) mengalami nyeri sedang, dan tidak ditemukan
responden dengan nyeri berat. Hasil Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan nilai Z =
−4,252 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan intensitas nyeri
yang bermakna antara sebelum dan setelah intervensi. Kesimpulan: Terapi bekam kering
berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri pada penderita dispepsia warga binaan
pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Medan.