Abstract:
Overactive bladder (OAB) merupakan kumpulan gejala saluran
kemih bagian bawah yang ditandai dengan urgensi berkemih, dengan atau tanpa
inkontinensia urgensi, yang umumnya disertai peningkatan frekuensi berkemih
dan nokturia. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan munculnya
gejala OAB adalah konsumsi kopi karena kandungan kafein di dalamnya dapat
meningkatkan aktivitas kandung kemih. Namun, hasil penelitian mengenai
hubungan konsumsi kopi dengan gejala OAB masih menunjukkan hasil yang
belum konsisten. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
frekuensi konsumsi kopi dengan gejala overactive bladder pada mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Metode: Penelitian ini merupakan
penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel
penelitian berjumlah 116 mahasiswa UMSU yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Data frekuensi konsumsi kopi diperoleh melalui kuesioner,
sedangkan gejala OAB diukur menggunakan kuesioner Overactive Bladder
Symptom Score (OABSS). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi
Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Sebagian besar responden
mengonsumsi kopi dengan frekuensi 1–3 kali/minggu sebanyak 64 orang (55,2%),
diikuti frekuensi 4–6 kali/minggu sebanyak 39 orang (33,6%), dan >6 kali/minggu
sebanyak 13 orang (11,2%). Berdasarkan skor OABSS, sebanyak 48 responden
(41,4%) tidak mengalami gejala OAB (no OAB), 46 responden (39,7%)
mengalami OAB ringan (mild OAB), 22 responden (19,0%) mengalami gejala
OAB sedang (moderate OAB), dan tidak terdapat responden dengan OAB berat
(severe OAB). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi
(r) sebesar 0,180 dengan nilai p = 0,054 (p > 0,05). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara frekuensi
konsumsi kopi dengan gejala overactive bladder pada mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara frekuensi konsumsi kopi dengan gejala overactive bladder
(OAB) pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.