Abstract:
Industri konstruksi memerlukan perencanaan biaya yang matang, khususnya pada
komponen upah tenaga kerja yang dapat mencapai 30–40% dari total biaya
proyek. Terdapat dua sistem pengupahan yang umum digunakan dalam proyek
konstruksi di Indonesia, yaitu sistem upah harian dan sistem upah borongan, di
mana pemilihan sistem yang tepat sangat berpengaruh terhadap efisiensi biaya
pelaksanaan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan
membandingkan biaya pelaksanaan pekerjaan antara sistem upah harian dan
sistem upah borongan pada proyek Pembangunan Unit Rumah Kost di Banda
Aceh, serta menghitung persentase selisih biaya di antara kedua sistem tersebut
berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Metode penelitian yang digunakan
bersifat deskriptif kuantitatif dengan mengumpulkan data primer (harga upah
lokal dan hasil wawancara kontraktor/mandor) dan data sekunder (RAB, gambar
kerja, dan Analisa Harga Satuan Pekerjaan/AHSP), kemudian dilakukan
perhitungan Rencana Anggaran Pelaksana (RAP) dengan metode upah harian dan
metode upah borongan untuk dibandingkan dengan RAB rencana. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa total RAB rencana proyek adalah sebesar Rp847,716,072,79
(belum termasuk PPN), total biaya upah dengan sistem harian sebesar
Rp423,701,995.17, dan total biaya upah dengan sistem borongan sebesar
Rp235.721.000,00. Terdapat selisih biaya sebesar Rp187.980.995,79 atau sekitar
5,6% antara kedua sistem, di mana sistem upah borongan terbukti lebih ekonomis
dibandingkan sistem upah harian. Faktor utama yang menyebabkan perbedaan
biaya tersebut antara lain produktivitas pekerja, tingkat keahlian, manajemen
waktu pelaksanaan, serta kompleksitas pekerjaan di lapangan.