Abstract:
Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang berperan penting
dalam menjaga keseimbangan sistem neuroendokrin dan fungsi reproduksi wanita.
Gangguan kualitas tidur dapat mengganggu fungsi aksis hipotalamus–hipofisis–
ovarium sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan menstruasi, termasuk
amenore sekunder. Tenaga kesehatan wanita yang bekerja dengan sistem shift
memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan tidur yang dapat berdampak
terhadap kesehatan reproduksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian amenore sekunder
pada tenaga kesehatan wanita usia reproduksi di RSUD Dr. Pirngadi Medan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik
observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian
berjumlah 78 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random
sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index
(PSQI), sedangkan kejadian amenore sekunder diidentifikasi menggunakan
kuesioner skrining berdasarkan definisi American Society for Reproductive
Medicine (ASRM). Analisis data dilakukan secara univariat untuk
menggambarkan karakteristik responden dan secara bivariat menggunakan uji
Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Sebagian besar responden
berusia 31–35 tahun (51,3%), berprofesi sebagai perawat (87,2%), dan memiliki
lama bekerja ≤10 tahun (80,8%). Sebanyak 55,1% responden memiliki kualitas
tidur yang baik, sedangkan 47,4% mengalami amenore sekunder. Hasil analisis
bivariat menunjukkan bahwa responden dengan kualitas tidur buruk lebih banyak
mengalami amenore sekunder dibandingkan responden dengan kualitas tidur baik.
Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas
tidur dengan kejadian amenore sekunder (p=0,004). Kesimpulan: Terdapat
hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian amenore sekunder
pada tenaga kesehatan wanita usia reproduksi di RSUD Dr. Pirngadi Medan.
Kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan meningkatnya kejadian amenore
sekunder sehingga perbaikan kualitas tidur perlu menjadi salah satu upaya dalam
menjaga kesehatan reproduksi tenaga kesehatan wanita.