Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan proses terjadinya polarisasi isu
sosial pada kelompok muda di Kota Berastagi dalam ruang digital, mengidentifikasi
faktor-faktor yang memengaruhi terbentuknya polarisasi, mengkaji dampaknya terhadap
kondisi psikososial pemuda, serta memahami strategi yang digunakan dalam mengelola
konflik dan perbedaan pandangan di media digital. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh
meningkatnya intensitas penggunaan media sosial di kalangan pemuda yang menjadikan
ruang digital sebagai arena utama pertukaran informasi, pembentukan opini, serta
interaksi sosial yang berpotensi memperkuat keterbelahan pandangan. Fenomena ini
menjadi penting untuk dikaji karena tidak hanya memengaruhi pola komunikasi daring,
tetapi juga berdampak terhadap hubungan sosial dan kesejahteraan psikososial pemuda
dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan lokasi penelitian di Kota Berastagi, Sumatera Utara. Subjek penelitian terdiri atas
pemuda berusia 16–30 tahun yang aktif menggunakan ruang digital, khususnya melalui
platform WhatsApp, Instagram, X (Twitter), dan media sosial lainnya. Informan dipilih
menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman dan keterlibatan
mereka dalam diskusi isu sosial maupun politik di ruang digital. Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi,
sedangkan analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polarisasi isu sosial di ruang
digital pada kelompok muda Berastagi terbentuk melalui proses bertahap yang diawali
dari perbedaan pendapat, penolakan terhadap pandangan tertentu, minimnya ruang
dialog, meningkatnya ketegangan emosional, hingga munculnya penarikan diri dari ruang
diskusi. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi, anonimitas pengguna, karakter
komunikasi berbasis teks, serta penyebaran opini yang cepat menjadi faktor yang
memperkuat polarisasi. Dampak yang muncul tidak hanya berupa meningkatnya konflik
opini, tetapi juga memengaruhi kondisi psikososial pemuda seperti munculnya emosi
negatif, rasa tidak dihargai, tekanan psikologis ringan, menurunnya kualitas hubungan
pertemanan, serta kecenderungan menghindari interaksi sosial tertentu. Di sisi lain,
ditemukan bahwa pemuda memiliki berbagai strategi dalam menghadapi konflik digital,
seperti menghindari perdebatan yang tidak produktif, membatasi keterlibatan, hingga
mencari solusi bersama melalui pendekatan dialogis. Penelitian ini menunjukkan bahwa
ruang digital bukan penyebab utama konflik sosial, tetapi berperan sebagai akselerator
yang memperbesar dan mempercepat ekspresi perbedaan yang telah ada di masyarakat.