Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi multilingualisme dalam
lanskap linguistik museum di Kota Medan, khususnya pada Museum Perkebunan
Indonesia dan Museum Negeri Sumatera Utara. Fokus utama penelitian ini adalah
mengidentifikasi jenis bahasa yang digunakan serta menentukan bahasa yang paling
dominan dalam lanskap linguistik museum. Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode dokumentasi, simak, dan catat. Data
penelitian berupa teks-teks visual kebahasaan yang terdapat pada papan informasi,
label koleksi, dan petunjuk arah di lingkungan museum. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari total 116 data kebahasaan, terdapat tiga bahasa yang
digunakan dalam lanskap linguistik museum, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris merupakan bahasa yang paling dominan, masing-masing ditemukan
sebanyak 52 data (45%), sedangkan Bahasa Latin hanya ditemukan sebanyak 12
data (10%) dan digunakan secara terbatas, terutama dalam penamaan ilmiah
koleksi. Berdasarkan bentuk penggunaannya, dari total 74 data bentuk lanskap
linguistik,
ditemukan variasi monolingual, bilingual, dan multilingual.
Bentuk bilingual menjadi yang paling dominan, yaitu sebanyak 52 data (70%),
diikuti oleh multilingual sebanyak 12 data (16%), dan monolingual sebanyak 10
data (13%). Dominannya penggunaan bentuk bilingual menunjukkan adanya
strategi komunikasi yang bertujuan menjangkau pengunjung lokal maupun
internasional melalui penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara
bersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa dalam lanskap
linguistik museum tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi informatif,
tetapi juga sebagai representasi identitas budaya, orientasi edukatif, serta strategi
institusi dalam menghadirkan ruang publik yang inklusif dan berorientasi global.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian
sosiolinguistik, khususnya dalam bidang multilingualisme dan lanskap linguistik di
ruang publik edukatif.