| dc.description.abstract |
Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya menangkal gejala awal tindakan
intoleransi, seperti perundungan berbasis stereotip suku dan agama (joke rasial) di
kalangan remaja usia sekolah menengah pertama. Kompleksitas keberagaman
etnis dan agama di Kota Medan menuntut adanya benteng preventif yang kuat
melalui jalur pendidikan formal. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan dan menganalisis strategi penguatan literasi budaya dalam
mencegah tindakan intoleransi di kalangan siswa SMP Negeri 22 Medan, serta
mengidentifikasi tantangan dan solusi penerapannya di lapangan.Metode
penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi
deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif terhadap
lingkungan fisik dan interaksi sosial sekolah, wawancara mendalam dengan
kepala sekolah dan guru pamong, serta studi dokumentasi perangkat ajar. Data
dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penguatan literasi budaya di SMP Negeri 22 Medan diintegrasikan secara kokoh
melalui model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Meskipun
menghadapi tantangan berupa paparan konten stereotip negatif di media sosial dan
resistensi lingkungan rumah, program ini terbukti efektif mengubah ketidaktahuan
menjadi empati sosial serta yang eksklusif berbasis SARA. Kesimpulan penelitian
ini menegaskan bahwa penguatan literasi budaya memiliki kekuatan preventif
yang signifikan dalam menciptakan iklim sekolah yang inklusif dan toleran,
asalkan didukung oleh sinergi regulasi sekolah yang tegas dan keterlibatan aktif
orang tua di rumah. |
en_US |