Abstract:
Komposit serat alam merupakan salah satu material alternatif yang banyak
dikembangkan sebagai pengganti material sintetis karena memiliki massa jenis
rendah, ramah lingkungan, serta memanfaatkan limbah pertanian, salah satunya
serat ampas tebu. Namun, sifat higroskopis serat ampas tebu menyebabkan
komposit rentan mengalami degradasi sifat mekanik akibat penyerapan air (water
aging). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi waktu water
aging selama 2 jam, 4 jam, dan 8 jam terhadap kekuatan tarik komposit serat ampas
tebu bermatriks resin epoksi yang telah diberi perlakuan alkali (NaOH) 5%, serta
menentukan tingkat degradasi kekuatan tarik akibat proses tersebut. Penelitian
menggunakan metode eksperimen dengan komposisi serat dan matriks sebesar
30:70. Serat ampas tebu direndam dalam larutan NaOH 5% selama 2 jam, kemudian
dibuat spesimen uji tarik sesuai standar ASTM D638 Tipe I. Spesimen selanjutnya
diberi perlakuan water aging dengan variasi waktu 0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 8 jam
sebelum dilakukan pengujian menggunakan Universal Testing Machine (UTM).
Parameter yang dianalisis meliputi tegangan tarik, regangan, dan modulus
elastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kekuatan tarik
mengalami penurunan seiring bertambahnya waktu water aging, yaitu sebesar
24,49 MPa (tanpa water aging), 23,35 MPa (2 jam), 19,94 MPa (4 jam), dan 13,86
MPa (8 jam). Tingkat degradasi kekuatan tarik berturut-turut sebesar 4,66%,
18,58%, dan 43,40% dibandingkan spesimen tanpa water aging. Nilai regangan
juga mengalami penurunan, sedangkan modulus elastisitas meningkat hingga
perlakuan water aging selama 4 jam sebelum menurun kembali pada water aging 8
jam. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variasi waktu water
aging berpengaruh terhadap sifat mekanik komposit serat ampas tebu. Semakin
lama waktu water aging, semakin besar degradasi kekuatan tarik yang terjadi
sehingga performa mekanik terbaik diperoleh pada komposit tanpa perlakuan water
aging.