<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/11">
<title>Faculty of Law</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/11</link>
<description>Fakultas Hukum</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32317"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32203"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32202"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32201"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-19T01:16:42Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32317">
<title>KEDUDUKAN SAKSI MAHKOTA DALAM SISTEM PEMBUKTIAN  PIDANA : STUDI KOMPARATIF ANTARA KITAB UNDANG UNDANG  HUKUM ACARA PIDANA LAMA DAN KITAB UNDANG UNDANG  HUKUM ACARA PIDANA BARU</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32317</link>
<description>KEDUDUKAN SAKSI MAHKOTA DALAM SISTEM PEMBUKTIAN  PIDANA : STUDI KOMPARATIF ANTARA KITAB UNDANG UNDANG  HUKUM ACARA PIDANA LAMA DAN KITAB UNDANG UNDANG  HUKUM ACARA PIDANA BARU
Fadillah, Aviva
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan saksi mahkota dalam &#13;
sistem pembuktian pidana melalui studi komparatif antara Kitab Undang-Undang &#13;
Hukum Acara Pidana (KUHAP) lama dan KUHAP baru. Permasalahan yang dikaji &#13;
meliputi pengaturan hukum, kedudukan yuridis, kekuatan dan nilai pembuktian &#13;
keterangan saksi mahkota, serta penerapannya ditinjau dari prinsip keadilan dan &#13;
perlindungan hak terdakwa. Penelitian ini di latarbelakangi belum adanya &#13;
pengaturan secara eksplisit mengenai saksi mahkota dalam KUHAP lama sehingga &#13;
penggunaannya berkembang melalui praktik peradilan dan yurisprudensi. &#13;
Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan &#13;
perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum &#13;
yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang &#13;
dianalisis secara deskriptif-analitis. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji putusan &#13;
pengadilan sebagai studi kasus untuk melihat penerapan saksi mahkota dalam &#13;
praktik peradilan pidana. Pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman &#13;
yang komprehensif mengenai kedudukan saksi mahkota baik secara normatif &#13;
maupun dalam implementasinya di lapangan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam KUHAP lama, saksi mahkota &#13;
tidak diatur secara tegas sehingga penggunaannya bergantung pada yurisprudensi &#13;
dengan syarat tertentu, seperti adanya pemisahan berkas perkara (splitsing) dan &#13;
didukung oleh alat bukti lain. Keterangan saksi mahkota tidak dapat berdiri sendiri &#13;
sebagai dasar pembuktian, melainkan harus diuji dan dikonfirmasi dengan alat bukti &#13;
lainnya. Sementara itu, KUHAP baru memberikan pengaturan yang lebih jelas &#13;
mengenai saksi mahkota, termasuk mekanisme penetapan dan pemberian &#13;
keringanan pidana. Pengaturan hukum tersebut memberikan pengaturan hukum &#13;
yang lebih baik, namun penerapannya tetap harus memperhatikan kualitas dan nilai &#13;
pembuktian keterangan saksi mahkota serta prinsip keadilan dan perlindungan hak &#13;
terdakwa.
</description>
<dc:date>2026-09-07T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32203">
<title>TANGGUNG JAWAB PIDANA KORPORASI DALAM  PENGALIHAN HAK ATAS TANAH MELALUI KERJASAMA  OPERASIONAL YANG MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32203</link>
<description>TANGGUNG JAWAB PIDANA KORPORASI DALAM  PENGALIHAN HAK ATAS TANAH MELALUI KERJASAMA  OPERASIONAL YANG MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA
FARAH, DIBA
Skema Kerja Sama Operasional (KSO) pemanfaatan aset tanah BUMN &#13;
kerap disalahgunakan untuk mengalihkan status Hak Guna Usaha (HGU) menjadi &#13;
Hak Guna Bangunan (HGB) yang berpotensi merugikan keuangan negara. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum alih status HGU &#13;
menjadi HGB, akibat hukum pengalihan hak melalui KSO yang merugikan &#13;
keuangan negara, serta pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap tindakan &#13;
penyimpangan tersebut.  &#13;
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif (doctrinal &#13;
legal research) dengan sifat deskriptif analitis. Pendekatan penelitian yang &#13;
digunakan adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan &#13;
pendekatan kasus (case approach). Sumber data utama menggunakan data &#13;
sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, serta &#13;
diperkuat dengan data kewahyuan (Al-Qur'an dan Hadis). Teknik pengumpulan &#13;
data dilakukan melalui studi kepustakaan (library research) dan dianalisis secara &#13;
kualitatif.   &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, alih status HGU menjadi &#13;
HGB secara normatif tunduk pada UUPA, PP No. 18/2021, dan Permen &#13;
ATR/BPN No. 18/2021 melalui pelepasan hak dan penyesuaian Rencana Tata &#13;
Ruang Wilayah (RTRW). Kedua, KSO yang menyimpang mengakibatkan &#13;
perjanjian batal demi hukum (Pasal 1320 KUHPerdata), sertifikat HGB dapat &#13;
dibatalkan secara administratif, serta memicu tindakan pemulihan aset negara. &#13;
Ketiga, pertanggungjawaban pidana korporasi diterapkan berdasarkan Pasal 20 &#13;
UU Tipikor, PERMA No. 13/2016, dan UU No. 1/2023 (KUHP) apabila &#13;
perbuatan dilakukan untuk/atas nama korporasi atau korporasi membiarkannya, &#13;
dengan sanksi berupa pidana denda hingga perampasan aset.
</description>
<dc:date>2026-08-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32202">
<title>TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP TINDAK PIDANA  PEMERASAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM  ANGGOTA ORGANISASI KEMASYARAKATAN  (STUDI DI POLRES LABUHAN BELAWAN)</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32202</link>
<description>TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP TINDAK PIDANA  PEMERASAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM  ANGGOTA ORGANISASI KEMASYARAKATAN  (STUDI DI POLRES LABUHAN BELAWAN)
FERDI
Tindak pidana pemerasan merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap &#13;
harta benda yang masih sering terjadi di masyarakat dan menimbulkan kerugian &#13;
serta keresahan sosial. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah tindak &#13;
pidana pemerasan yang dilakukan oleh oknum anggota organisasi kemasyarakatan &#13;
(ormas) dengan memanfaatkan pengaruh kelompok untuk memperoleh keuntungan &#13;
secara melawan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui modus operandi &#13;
tindak pidana pemerasan yang dilakukan oleh oknum anggota organisasi &#13;
kemasyarakatan di wilayah hukum Polres Labuhan Belawan, menganalisis faktor&#13;
faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana tersebut, serta mengkaji &#13;
upaya pencegahan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. &#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis normatif &#13;
dengan sifat deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang&#13;
undangan (statute approach) melalui studi kepustakaan yang didukung dengan &#13;
wawancara sebagai data pelengkap. Sumber data diperoleh dari bahan hukum &#13;
primer, sekunder, dan tersier yang berkaitan dengan tindak pidana pemerasan serta &#13;
organisasi kemasyarakatan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modus operandi tindak pidana &#13;
pemerasan yang dilakukan oleh oknum anggota organisasi kemasyarakatan di &#13;
wilayah Polres Labuhan Belawan umumnya dilakukan dengan cara meminta &#13;
sejumlah uang secara paksa kepada pihak tertentu, khususnya di kawasan &#13;
pelabuhan dan area parkir, melalui intimidasi, ancaman, maupun penyalahgunaan &#13;
atribut organisasi. Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana &#13;
tersebut antara lain faktor ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, pengangguran, &#13;
lemahnya pengawasan organisasi, lingkungan sosial yang mendukung perilaku &#13;
menyimpang, serta adanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan &#13;
mudah. Upaya pencegahan yang dilakukan meliputi langkah preventif berupa &#13;
penyuluhan hukum, patroli rutin, pengawasan terhadap aktivitas organisasi &#13;
kemasyarakatan, serta langkah represif melalui penegakan hukum dan penindakan &#13;
tegas terhadap pelaku sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang &#13;
berlaku.
</description>
<dc:date>2026-08-21T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32201">
<title>TINJAUAN YURIDIS IMPLEMENTASI PRINSIP GOOD  CORPORATE GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN  PERSEROAN TERBATAS  (Studi pada PT Nusantara IV Medan)</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32201</link>
<description>TINJAUAN YURIDIS IMPLEMENTASI PRINSIP GOOD  CORPORATE GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN  PERSEROAN TERBATAS  (Studi pada PT Nusantara IV Medan)
WAHYU, ARDIANSYAH LUBIS
Penerapan Good Corporate Governance (GCG) menjadi hal yang sangat &#13;
penting dalam meningkatkan kinerja dan transparansi perusahaan, khususnya pada &#13;
Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini dilatarbelakangi oleh masih adanya &#13;
permasalahan dalam pengelolaan perusahaan, seperti kurangnya transparansi, &#13;
akuntabilitas, serta potensi terjadinya penyimpangan. Oleh karena itu, penerapan &#13;
prinsip-prinsip GCG diharapkan mampu menciptakan tata kelola perusahaan yang &#13;
baik, profesional, dan berintegritas. &#13;
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode &#13;
penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui &#13;
studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai sumber hukum seperti buku, jurnal, &#13;
dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Good Corporate &#13;
Governance. Selain itu, penelitian ini juga didukung dengan data tambahan berupa &#13;
wawancara untuk memperkuat analisis. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip Good &#13;
Corporate Governance seperti transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, &#13;
independensi, dan kewajaran memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja &#13;
perusahaan. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala, seperti &#13;
kurangnya komitmen dari pihak internal dan lemahnya pengawasan. Oleh karena &#13;
itu, diperlukan upaya peningkatan pengawasan serta komitmen yang kuat dari &#13;
seluruh pihak agar penerapan GCG dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-08-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
