| dc.description.abstract |
Generasi muda merupakan kelompok sosial yang berada dalam fase pencarian identitas
serta rentan terhadap berbagai dinamika sosial, termasuk konflik keluarga dan tekanan
lingkungan. Dalam perkembangan media digital, music video tidak hanya berfungsi
sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi medium representasi realitas sosial yang
membentuk cara pandang masyarakat terhadap generasi muda. Melalui visual, narasi,
dan simbol yang ditampilkan, music video mampu menyampaikan pesan emosional
dan ideologis yang membangun makna tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis representasi generasi muda yang digambarkan dalam music video “Si
Paling Mahir” dan “33x” menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode
penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis
semiotika Roland Barthes yang meliputi tiga tahapan pemaknaan, yaitu denotasi,
konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotasi, music
video menampilkan konflik interpersonal antara anak dan orang tua melalui adegan
pertengkaran, ekspresi emosional, serta gestur penolakan. Pada tataran konotasi,
konflik tersebut merepresentasikan jarak komunikasi antar generasi, tekanan
emosional, serta ketidakmampuan generasi muda dalam mengelola ekspektasi sosial
dan keluarga. Sementara pada tataran mitos, terbentuk pemaknaan mengenai stereotip
generasi muda sebagai individu yang dianggap egois dan keras kepala, namun
sesungguhnya sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan kebutuhan akan
pemahaman. Temuan ini menunjukkan bahwa music video tidak hanya merefleksikan
realitas sosial, tetapi juga berperan dalam membentuk konstruksi makna mengenai
posisi dan identitas generasi muda dalam masyarakat. |
en_US |