| dc.description.abstract |
Penelitian ini dilatar belakangi oleh posisi strategis media massa dalam membentuk opini publik, khususnya terkait fenomena penyalahgunaan identitas institusi oleh oknum aparat yang merusak citra keamanan nasional dan memicu kekhawatiran masyarakat. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana media online Kompas.com dan Viva.co.id memframing pemberitaan kasus oknum TNI mengaku polisi di Gowa, dengan tujuan untuk mengidentifikasi perbedaan konstruksi realitas di antara kedua media tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi terhadap enam artikel berita yang relevan. Teknik analisis data menggunakan model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki yang meliputi empat dimensi struktur: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com secara konsisten membingkai peristiwa dalam koridor hukum formal, akuntabilitas, dan transparansi institusi dengan mengandalkan narasumber otoritas resmi. Sebaliknya, Viva.co.id lebih menonjolkan sisi drama kriminal, viktimisasi warga sipil, serta aspek emosional korban melalui narasi skenario "jebakan" dan arogansi pelaku. Simpulan penelitian menegaskan bahwa kedua media membangun realitas yang berbeda dari satu peristiwa yang sama; Kompas.com cenderung menggunakan pendekatan prosedural institusional, sementara Viva.co.id lebih mengedepankan pendekatan human interest yang bersifat sensasional. Penggunaan empat elemen struktural framing terbukti efektif dalam mengarahkan opini publik terhadap isu pelanggaran oknum aparat tersebut. |
en_US |