Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi yang dilakukan oleh
tokoh adat dalam upaya mempertahankan identitas budaya Jawa melalui tradisi
wetonan di Desa Tanah Rakyat, Kecamatan Pulo Bandring, Kabupaten Asahan. Di
tengah arus globalisasi dan modernisasi, terjadi pergeseran pemahaman generasi
muda terhadap tradisi lokal, termasuk wetonan sebagai sistem penanggalan pada adat
Jawa yang mengandung nilai-nilai filosofis mendalam. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara
mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri atas dua tokoh adat dan tiga
anggota masyarakat setempat. Analisis penelitian didasarkan pada fungsi komunikasi
menurut Lasswell (surveillance, correlation, transmission), teori komunikasi budaya
dari Clifford Geertz, serta konsep identitas dari Stuart Hall yang meliputi identity as
being dan identity as becoming. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran
komunikasi tokoh adat cenderung bersifat reaktif dan situasional, terutama muncul
dalam konteks pelaksanaan hajatan dan upacara pernikahan. Simbol-simbol budaya
seperti nasi tumpeng dan ayam ingkung dimaknai sebagai wujud rasa syukur
sekaligus representasi hubungan kosmologis. Selain itu, terdapat dinamika antara
identity as being dan identity as becoming yang tercermin dalam perubahan orientasi
tradisi, dari yang semula bersifat kewajiban menjadi pilihan individu. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa tokoh adat telah menjalankan fungsi
komunikasinya, namun masih diperlukan strategi yang lebih proaktif dan adaptif agar
tradisi wetonan tetap lestari serta relevan bagi generasi muda.