Abstract:
film dokumenter Tanah Moyangku yang dipublikasikan melalui kanal YouTube
Watchdoc Documentary. Film dokumenter sebagai media audio-visual tidak
hanya menyampaikan realitas, tetapi juga membangun makna melalui elemen
visual dan naratif yang disusun secara sistematis. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks media. Teori yang digunakan
adalah teori representasi Stuart Hall dan teori komunikasi lingkungan Robert Cox,
serta didukung oleh teori film dokumenter Bill Nichols. Objek penelitian ini
adalah film dokumenter Tanah Moyangku yang dianalisis berdasarkan pembagian
17 scene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan
lingkungan dalam tiga bentuk utama, yaitu sebagai ruang hidup, ruang konflik,
dan ruang keberlanjutan. Representasi konflik agraria muncul secara dominan
melalui visual bentrokan, narasi kesaksian, serta data statistik yang memperkuat
ketimpangan penguasaan lahan. Selain itu, film membangun diskursus lingkungan
yang menempatkan konflik agraria sebagai persoalan struktural yang berkaitan
dengan relasi kuasa antara masyarakat, negara, dan korporasi. Dengan demikian,
film dokumenter Tanah Moyangku tidak hanya berfungsi sebagai media
informasi, tetapi juga sebagai media advokasi yang membentuk pemahaman
publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mempertahankan hak atas
tanah masyarakat adat.