Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan bentuk komunikasi inklusif
antara relawan dan Teman Tuli serta peran Komunitas Temandinny Medan dalam
memfasilitasi komunikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini terdiri
dari lima orang relawan yang tergabung dalam Komunitas Temandinny Medan.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses
komunikasi inklusif antara relawan dan Teman Tuli berlangsung secara bertahap
melalui proses adaptasi, pembelajaran bahasa isyarat, serta penggunaan berbagai
bentuk komunikasi seperti bahasa isyarat, tulisan, gestur, dan ekspresi wajah.
Pemahaman makna dalam komunikasi terbentuk melalui proses interpretasi
simbol yang berulang, sehingga tercipta kesepahaman antara kedua belah pihak.
Meskipun terdapat hambatan, komunikasi tetap dapat berlangsung secara efektif
melalui upaya penyesuaian dan penggunaan berbagai media komunikasi.
Keberhasilan komunikasi ditandai dengan tercapainya pemahaman bersama,
kelancaran interaksi, serta meningkatnya kepercayaan diri relawan. Komunitas
Temandinny Medan memiliki peran yang signifikan dalam memfasilitasi
komunikasi inklusif melalui penyediaan pembelajaran bahasa isyarat, pelaksanaan
kegiatan sebagai media interaksi, pemberian fasilitas pendukung, serta penciptaan
lingkungan yang inklusif dan suportif. Keberadaan komunitas ini tidak hanya
membantu meningkatkan kemampuan komunikasi relawan, tetapi juga
berkontribusi dalam membangun interaksi sosial yang setara dan bermakna antara
relawan dan Teman Tuli.