| dc.description.abstract |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana representasi human interest
pada foto pemulung anak-anak yang dimuat dalam Majalah Seratamata Edisi 1.
Fenomena anak-anak yang bekerja sebagai pemulung merupakan realitas sosial
yang masih sering ditemukan di wilayah perkotaan dan mencerminkan adanya
ketimpangan sosial serta kemiskinan struktural. Dalam konteks media visual,
fotografi jurnalistik tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi peristiwa, tetapi
juga berperan dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas sosial
yang ditampilkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana makna
kemanusiaan dan empati dibangun melalui representasi visual anak-anak pemulung
dalam media cetak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif
dengan metode analisis semiotika Roland Barthes. Data utama penelitian berupa
foto-foto pemulung anak-anak dalam Majalah Seratamata Edisi 1 yang dianalisis
sebagai teks visual. Analisis dilakukan melalui tiga tahap pemaknaan, yaitu
denotasi, konotasi, dan mitos. Selain itu, analisis konotatif juga menggunakan enam
prosedur fotografi Barthes, yaitu trick effect, pose, object, photogenia, aestheticism,
dan syntax, untuk mengungkap makna serta pesan sosial yang terkandung dalam
foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa foto-foto pemulung anak-anak dalam
Majalah Seratamata merepresentasikan nilai human interest yang kuat melalui
ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta latar lingkungan tempat pembuangan sampah
yang menjadi ruang aktivitas mereka. Pada tingkat denotasi, foto menampilkan
aktivitas anak-anak yang mengumpulkan barang bekas. Pada tingkat konotasi,
visual tersebut memunculkan makna tentang perjuangan hidup, beban ekonomi, dan
kondisi sosial yang memaksa anak-anak bekerja sejak usia dini. Sementara itu, pada
tingkat mitos, foto merepresentasikan realitas kemiskinan struktural dalam
masyarakat perkotaan, di mana masa kanak-kanak tidak selalu identik dengan
bermain dan pendidikan. Dengan demikian, foto-foto tersebut tidak hanya berfungsi
sebagai dokumentasi visual, tetapi juga sebagai media yang membangun empati
serta kesadaran sosial pembaca terhadap kehidupan anak-anak pemulung. |
en_US |