| dc.description.abstract |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi dampak sosial dari fenomena
perselingkuhan yang digambarkan dalam film Norma karya Guntur Soeharjanto dan Ipar Adalah
Maut karya Hanung Bramantyo. Latar belakang penelitian ini didasari oleh tingginya angka
perceraian akibat perselingkuhan di Indonesia serta peran film sebagai media massa yang
merefleksikan realitas sosial dan krisis moral dalam institusi pernikahan. Metode penelitian yang
digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik analisis data mengintegrasikan teori
Semiotika Roland Barthes untuk membedah makna denotasi, konotasi, dan mitos pada elemen
visual mise-en-scène, serta teori Representasi dan Encoding-Decoding Stuart Hall untuk
memahami bagaimana pesan diproduksi oleh sutradara dan diinterpretasikan oleh penonton. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kedua film merepresentasikan dampak sosial melalui simbol
simbol visual seperti pengaturan ruang yang sempit, pencahayaan redup, dan narasi trauma
psikologis. Film Norma menitikberatkan pada perlawanan individu terhadap penindasan struktural
dalam dinamika menantu-mertua , sementara Ipar Adalah Maut menggunakan pendekatan drama
psikologis untuk menggambarkan kerusakan mental akibat pengkhianatan dalam lingkaran
keluarga terdekat. Temuan ini mengindikasikan bahwa representasi dampak sosial dalam film
Indonesia berfungsi sebagai kritik terhadap ideologi keluarga patriarkal dan norma sosial yang
sering kali memojokkan perempuan sebagai korban. |
en_US |