Abstract:
Permasalahan penelitian ini terletak pada ketidaksesuaian antara tuntutan kompetensi
komunikasi Bahasa Inggris di bidang penerbangan dengan kemampuan aktual siswa
SMK Manajemen Penerbangan Medan dalam berinteraksi secara lisan. Meskipun
pembelajaran telah diberikan, siswa masih mengalami hambatan berupa kecemasan
berbicara, rendahnya kepercayaan diri, serta keterbatasan kosakata dalam situasi
komunikasi praktik. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum
sepenuhnya membentuk pengalaman komunikasi yang kuat dan aplikatif. Sebagai upaya
memahami dan menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menganalisis
pengalaman komunikasi siswa dalam konteks pembelajaran dan praktik penerbangan.
Penelitian ini menggunakan teori komunikasi, komunikasi antarpribadi, English for
Specific Purposes (ESP), serta teori faktor psikologis komunikasi sebagai landasan
konseptual untuk mengkaji proses interaksi, hambatan, dan dinamika komunikasi siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap siswa, dan dokumentasi. Analisis data
dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan secara
interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman komunikasi siswa
berkembang melalui pembelajaran berbasis praktik kontekstual seperti simulasi flight
announcement dan pelayanan penumpang. Keberhasilan komunikasi dipengaruhi oleh
penerapan pendekatan ESP, komunikasi dua arah yang suportif antara guru dan siswa,
serta penguatan aspek psikologis berupa peningkatan rasa percaya diri. Simpulan
penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dan konteks
vokasional secara signifikan membentuk keberanian dan kompetensi komunikasi siswa
secara bertahap.