| dc.description.abstract |
Fenomena catcalling sebagai bentuk pelecehan verbal di ruang publik
merepresentasikan persoalan sosial yang berkaitan erat dengan ketimpangan relasi
gender dan kualitas kesejahteraan sosial. Praktik ini kerap dinormalisasi sebagai
bentuk interaksi biasa, meskipun berimplikasi pada ketidaknyamanan dan
kerentanan, khususnya bagi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis fenomena catcalling, menggali pengalaman dan persepsi mahasiswa
indekos, mengkaji relasi gender yang terwujud dalam praktik tersebut, serta
menelaah dampaknya terhadap rasa aman dan kesejahteraan sosial. Lokasi
penelitian berada di Jalan Kapten Muchtar Basri, Kota Medan, sebagai kawasan
dengan intensitas interaksi sosial yang tinggi di kalangan mahasiswa. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh
melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi,
dengan teknik purposive sampling dalam penentuan informan. Analisis data
dilakukan menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian
data, serta penarikan kesimpulan secara sistematis dan berkelanjutan. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa catcalling tidak hanya merupakan bentuk
pelecehan verbal, tetapi juga manifestasi dari relasi kuasa yang timpang berbasis
gender di ruang publik. Praktik ini menimbulkan dampak psikologis berupa
kecemasan, rasa tidak aman, dan penurunan kepercayaan diri, serta berdampak
pada pembatasan mobilitas dan terganggunya keberfungsian sosial mahasiswa
indekos. Dengan demikian, catcalling perlu dipahami sebagai masalah sosial yang
berdimensi struktural, bukan sekadar tindakan individual. Penelitian ini
diharapkan berkontribusi dalam penguatan kajian kesejahteraan sosial serta
menjadi dasar bagi pengembangan intervensi dan kebijakan yang berorientasi
pada terciptanya ruang publik yang aman, inklusif, dan berkeadilan gender. |
en_US |