Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi muzakki
milenial dalam pembayaran zakat digital di BAZNAS Kota Medan, meskipun
kelompok ini memiliki tingkat literasi teknologi dan akses internet yang tinggi.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan realisasi
penghimpunan zakat berbasis digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis
strategi pengembangan produk zakat digital dalam meningkatkan partisipasi
muzakki milenial. Landasan teori yang digunakan meliputi konsep zakat dalam
ekonomi Islam, teori strategi pengembangan produk, serta Technology
Acceptance Model (TAM) yang menekankan perceived usefulness dan perceived
ease of use sebagai determinan adopsi teknologi.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian
dianalisis secara deskriptif-analitis dengan teknik reduksi, penyajian, dan
penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi digital telah
diterapkan melalui website, QRIS, dan kolaborasi fintech, namun belum optimal
dari sisi sosialisasi, literasi zakat digital, dan pengalaman pengguna. Faktor
kepercayaan, kemudahan akses, dan transparansi pelaporan menjadi determinan
utama partisipasi milenial. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan edukasi
digital, optimalisasi fitur aplikasi, dan strategi komunikasi berbasis media sosial
diperlukan
untuk meningkatkan partisipasi muzakki milenial secara
berkelanjutan.