Abstract:
Penelitian ini mengkaji bagaimana identitas pelaku dikonstruksi dalam
liputan Kompas.com mengenai pembakaran asrama putra Pondok Pesantren Babul
Maghfirah yang dipicu oleh tindakan perundungan. Media massa berperan penting
dalam membentuk realitas sosial melalui pemilihan fakta, bahasa, dan
pembingkaian peristiwa, sehingga dapat memengaruhi pandangan publik terhadap
pelaku maupun korban. Oleh sebab itu, studi ini bertujuan menganalisis cara
Kompas.com membentuk identitas pelaku serta dampak pemberitaan tersebut
terhadap opini publik.Penelitian memakai pendekatan kualitatif dengan analisis
framing dan perspektif konstruksi realitas sosial. Data berupa teks berita, judul,
kutipan narasumber, dan elemen visual pada pemberitaan Kompas.com selama 6–8
November 2025. Analisis didasarkan pada teori konstruksi realitas sosial Berger
dan Luckmann, teori framing media, serta model hierarki pengaruh media
Shoemaker dan Reese untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi
narasi pemberitaan.Temuan menunjukkan Kompas.com tidak semata-mata
menggambarkan pelaku sebagai pelaku kriminal; melainkan menempatkannya
sebagai individu yang terbentuk oleh kondisi sosial tertentu terkait perundungan
dan dinamika di lingkungan pendidikan. Pilihan diksi, perspektif narasumber, dan
penekanan pada konteks sosial berkontribusi pada pembentukan makna tersebut,
yang pada gilirannya memengaruhi pemahaman publik tentang kasus kekerasan di
lingkungan pesantren.Studi ini diharapkan memberi sumbangan teoretis untuk
kajian komunikasi massa mengenai konstruksi realitas dan framing, serta saran
praktis bagi jurnalis dan pemangku kepentingan agar menyajikan pemberitaan yang
lebih seimbang, peka, dan bersifat edukatif terkait isu perundungan dan kekerasan
di lingkungan pendidikan