Abstract:
Pendahuluan: Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru. Penularannya terjadi melalui
udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara sehingga bakteri dapat terhirup
oleh orang lain. Gejala umum TB paru meliputi batuk kronis, dahak bercampur darah, demam,
penurunan berat badan, dan keringat malam. TB paru merupakan salah satu masalah kesehatan
utama di dunia, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua setelah India sebagai
negara dengan beban TB tertinggi. Terapi TB paru membutuhkan pengobatan jangka panjang
dengan regimen obat anti-TB (OAT) selama 6–9 bulan. Keberhasilan pengobatan sangat
dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur. Namun, berbagai
faktor dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien, baik dari sisi individu, keluarga, maupun
pelayanan kesehatan. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan
pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada pasien TB paru dengan tujuan
menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat. Sampel
penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria pasien TB paru yang
sedang menjalani pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Variabel yang diteliti meliputi
pengetahuan pasien, dukungan keluarga, efek samping obat, dan peran fasilitas kesehatan.
Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara faktor faktor tersebut dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat. Hasil: Berdasarkan hasil
penelitian, faktor pengetahuan pasien tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap
kepatuhan minum obat. Dukungan keluarga terbukti memiliki hubungan signifikan dengan
kepatuhan pasien. Efek samping obat juga terbukti menjadi faktor yang paling berpengaruh
terhadap kepatuhan minum obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, peran fasilitas
kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien. Pasien yang
tidak mengalami efek samping serius cenderung lebih patuh dalam mengonsumsi obat,
sedangkan pasien yang mendapatkan dukungan keluarga lebih mampu menjaga rutinitas
pengobatan secara konsisten. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor
yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru adalah efek
samping obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, pengetahuan pasien dan peran
fasilitas kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepatuhan. Temuan ini
menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi tentang efek
samping obat serta strategi penanganannya, sehingga pasien tetap termotivasi untuk
melanjutkan terapi. Selain itu, dukungan keluarga juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu
faktor kunci dalam keberhasilan pengobatan TB paru.