| dc.description.abstract |
Latar Belakang: Skabies merupakan penyakit kulit menular dengan
gejala utama pruritus yang sering menetap meskipun telah diberikan terapi
standar. Daun sirih merah (Piper crocatum) memiliki kandungan senyawa
antiinflamasi dan antipruritus yang berpotensi digunakan sebagai terapi
komplementer untuk mengurangi gejala pruritus pada pasien skabies.
Metode:Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan metode
pretest–posttest with control group design. Sebanyak 32 anak dengan skabies
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang diberikan terapi
standar permetrin 5% disertai kompres rebusan daun sirih merah (n=16) dan
kelompok kontrol yang diberikan terapi standar permetrin 5% disertai kompres
NaCl (n=16). Kompres diberikan satu kali sehari selama satu minggu. Tingkat
pruritus diukur menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) sebelum dan
sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan uji
Mann–Whitney. Hasil:Rerata skor pruritus pada kelompok kompres rebusan daun
sirih merah menurun dari 8,12 menjadi 2,69 dengan selisih rerata 5,44. Pada
kelompok kompres NaCl, rerata skor pruritus menurun dari 8,00 menjadi 4,81
dengan selisih rerata 3,19. Penurunan skor pruritus pada kedua kelompok
bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbandingan antar kelompok menunjukkan
bahwa penurunan skor pruritus pada kelompok kompres rebusan daun sirih merah
secara signifikan lebih besar dibandingkan kelompok kompres NaCl (p < 0,001).
Kesimpulan:Kompres rebusan daun sirih merah lebih efektif dalam menurunkan
gejala pruritus pada pasien skabies dibandingkan kompres NaCl, sehingga
berpotensi digunakan sebagai terapi komplementer setelah terapi standar. |
en_US |