Abstract:
Latar Belakang: Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh (body dissatisfaction)
merupakan permasalahan psikologis yang sering dialami oleh remaja dan dewasa
muda, khususnya perempuan, dan dapat berdampak pada kesehatan mental. Salah
satu gangguan yang berkaitan dengan kondisi ini adalah Body Dysmorphic
Disorder (BDD), yaitu gangguan yang ditandai dengan preokupasi berlebihan
terhadap kekurangan fisik yang bersifat subjektif. Mahasiswi kedokteran termasuk
kelompok yang rentan mengalami tekanan terkait penampilan akibat tuntutan
akademik, lingkungan sosial, serta paparan standar kecantikan ideal melalui media
sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body
dissatisfaction dengan risiko Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada mahasiswi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara (FKIK UMSU). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
analitik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 68 mahasiswi FKIK UMSU
angkatan 2022–2024, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling.
Tingkat body dissatisfaction diukur menggunakan Body Shape Questionnaire-16A
(BSQ-16A), sedangkan risiko BDD diukur menggunakan kuesioner Body
Dysmorphic Disorder 11 item yang telah tervalidasi dan reliabel. Analisis data
dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa 44,2% responden mengalami body dissatisfaction tingkat
sedang hingga berat, dan sebagian besar responden memiliki risiko BDD kategori
ringan (67,6%). Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan
antara body dissatisfaction dengan risiko BDD (p < 0,001) dengan kekuatan
korelasi sedang (r = 0,432). Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan
antara body dissatisfaction dengan risiko Body Dysmorphic Disorder pada
mahasiswi FKIK UMSU. Semakin tinggi tingkat ketidakpuasan terhadap bentuk
tubuh, semakin tinggi risiko terjadinya BDD.