| dc.description.abstract |
Pendahuluan: Sifilis merupakan infeksi menular seksual kronis yang disebabkan
oleh Treponema pallidum dan hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat, khususnya pada kelompok usia produktif. Penyakit ini berkembang
melalui beberapa stadium klinis, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier. Gejala
awal yang sering tidak nyeri menyebabkan banyak pasien tidak menyadari infeksi
sehingga datang berobat pada stadium lanjut. Keterlambatan diagnosis tidak
hanya dipengaruhi faktor klinis, tetapi juga faktor sosial demografis seperti jenis
pekerjaan dan tingkat pendidikan yang berperan dalam membentuk perilaku
kesehatan, akses informasi, serta keputusan mencari pengobatan. Oleh karena itu,
karakteristik sosial tersebut diduga berhubungan dengan stadium sifilis saat
pertama kali terdiagnosis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan terhadap stadium sifilis
pada pasien di RSUD Drs. H. Amri Tambunan. Metode: Penelitian ini
menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional.
Data diperoleh dari rekam medis pasien sifilis periode Januari 2021–November
2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 30
responden. Analisis dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi
karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menilai
hubungan antarvariabel. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki
dan berada pada kelompok usia produktif. Tingkat pendidikan terbanyak adalah
SMA (63,3%) dan jenis pekerjaan didominasi mahasiswa (30,0%). Stadium sifilis
yang paling sering ditemukan adalah stadium sekunder (43,3%). Uji statistik
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan
dengan stadium sifilis (p=0,388) maupun antara tingkat pendidikan dengan
stadium sifilis (p=0,255). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara jenis
pekerjaan dan tingkat pendidikan dengan stadium sifilis. Faktor perilaku,
keterlambatan deteksi, serta rendahnya kesadaran skrining kemungkinan lebih
berperan dalam menentukan stadium saat diagnosis. Diperlukan peningkatan
edukasi kesehatan dan deteksi dini untuk mencegah progresivitas penyakit. |
en_US |