| dc.description.abstract |
Pendahuluan: Gizi lebih pada remaja merupakan permasalahan kesehatan
masyarakat yang terus meningkat dan berpotensi menimbulkan dampak jangka
panjang, seperti sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular. Perubahan gaya
hidup remaja, khususnya meningkatnya konsumsi minuman berpemanis serta
tingginya perilaku sedentary, diduga berperan penting dalam peningkatan
kejadian gizi lebih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
konsumsi minuman berpemanis dan sedentary lifestyle dengan kejadian gizi lebih
pada remaja di SMA Negeri 2 Tebing Tinggi. Metode: Penelitian ini
menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.
Sampel penelitian berjumlah 100 siswa usia 15–17 tahun yang dipilih
menggunakan teknik purposive sampling. Konsumsi minuman berpemanis diukur
menggunakan Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ),
sedentary lifestyle dinilai menggunakan Adolescent Sedentary Activity
Questionnaire (ASAQ), dan status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa
tubuh (IMT). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan
uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 52%
responden memiliki konsumsi minuman berpemanis berlebih dan 78% responden
memiliki sedentary lifestyle tinggi. Prevalensi gizi lebih (overweight dan obesitas)
ditemukan sebesar 43%. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi
minuman berpemanis dengan kejadian gizi lebih (p=0,000) serta antara sedentary
lifestyle dengan kejadian gizi lebih (p=0,010). Kesimpulan: Konsumsi minuman
berpemanis dan sedentary lifestyle berhubungan secara signifikan dengan kejadian
gizi lebih pada remaja. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi gizi serta
peningkatan aktivitas fisik perlu ditingkatkan untuk menurunkan risiko gizi lebih
pada remaja. |
en_US |