| dc.description.abstract |
Pendahuluan: Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang dapat memicu
stres oksidatif ketika produksinya melebihi kapasitas sistem pertahanan tubuh.
Kondisi ini dapat merusak komponen seluler dan berperan dalam proses
terjadinya berbagai penyakit degeneratif, seperti penuaan dini, kanker, diabetes,
dan penyakit kardiovaskular. Antioksidan diperlukan untuk menetralkan radikal
bebas sehingga mampu mencegah atau memperlambat kerusakan oksidatif. Daun
kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dikenal sebagai tanaman herbal yang
banyak digunakan dalam pengobatan tradisional dan mengandung senyawa
bioaktif, termasuk flavonoid dan fenolik, yang memiliki aktivitas antioksidan.
Namun, tingkat efektivitasnya perlu dibandingkan dengan antioksidan standar
seperti vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas
antioksidan ekstrak metanol daun kumis kucing dengan vitamin C menggunakan
metode DPPH. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental dimulai
dengan pembuatan ekstrak daun kumis kucing, larutan uji dengan konsentrasi 10–
50 ppm untuk ekstrak dan 1–5 ppm untuk vitamin C, serta pengukuran absorbansi
larutan uji pada panjang gelombang 517 nm sebanyak tiga replikasi. Nilai IC50
diperoleh menggunakan analisis regresi linear, dan perbandingan antara kedua
kelompok dilakukan dengan Independent Sample t-test. Hasil: Ekstrak daun
kumis kucing memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 29,38
ppm; 33,39 ppm; dan 30,36 ppm. Vitamin C juga menunjukkan aktivitas
antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 1,31 ppm; 0,85 ppm; dan
0,15 ppm. Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok
(p < 0,001). Kesimpulan: Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan yang jauh
lebih kuat dibandingkan ekstrak metanol daun kumis kucing. |
en_US |