| dc.description.abstract |
Latar Belakang: Konstipasi merupakan gangguang buang air besar yang ditandai
dengan frekuensi defekasi kurang dari tiga kali per minggu, feses keras, atau rasa
tidak lampias. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami pola makan
tidak teratur, termasuk kebiasaan skipping breakfast, yang secara teori dapat
menggangu refleks gastrokolik dan ritme sirkadian usus sehingga berpotensi
meningkatkan risiko konstipasi. Namun, bukti ilmiah mengenai hubungan keduanya
masih bervariasi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kebiasaan skipping breakfast
dengan kejadian kontipasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Angkatan 2022. Metode: Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 158 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik
consecutive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kebiasaan skipping
breakfast diukur menggunakan kuesioner frekuensi sarapan, sedangkan kejadian
konstipasi dinilai menggunakan Rome IV Diagnostic Criteria. Analisis bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebanyak
72,2% responden memiliki kebiasaan skipping breakfast dan 35,4% mengalami
konstipasi. Hasil uji Chi-Square menunjukan nilai p 0,336, yang berarti tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara kebiasaan skipping breakfast dengan kejadian
konstipasi pada mahasiswa FKIK UMSU angkatan 2022. Kesimpulan: tidak terdapat
hubungan signifikan antara kebiasaan skipping breakfast dengan kejadian konstipasi.
Faktor lain seperti asupan serat, kecukupan cairan, aktivitas fisik, serta stress diduga
lebih berpengaruh terhadap konstipasi pada mahasiswa. |
en_US |